Karakteristik Pemerolehan Bahasa Pertama

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan pesan kepada manusia lainnya. Bahasa adalah keterampilan khusus yang kompleks, berkembang dalam diri anak secara spontan, tanpa usaha sadar atau instruksi formal, dipakai tanpa memahami logika yang mendasarinya. Untuk memperoleh suatu bahasa, manusia mempelajarinya melalui proses pemerolehan bahasa. Proses pemerolehan bahasa sebenarnya telahdiperoleh sejak manusia lahir. Proses pemerolehan itu berlangsung secara alami, tidak dengan cara menghapalkan kosakata, aturan-aturan gramatika, dan aplikasi secara sosial. Kamus bahasa dalam otak anak tersusun secara otomatis tanpa teori, sedangkan kemampuan gramatika anak terasah dari pemerolehan yang disimaknya. Dalam kajian bahasa hal ini dikenal dengan istilah pemerolehan bahasa.
 
Menurut Abdul Chaer (2003:167), pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses yang terjadi pada waktu seorang anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua. Adapun proses perkembangan bahasa pada anak yaitu: (a) fonologi, anak menggunakan bunyi-bunyi yang telah dipelajarinya dengan bunyi-bunyi yang belum dipelajari, misalnya menggantikan bunyi /l/ yang sudah dipelajari dengan bunyi /r/ yang belum dipelajari. Pada akhir periode berceloteh, anak sudah mampu mengendalikan intonasi, modulasi nada, dan kontur bahasa yang dipelajarinya, (b) morfologi, pada usia 3 (tiga) tahun anak sudah membentuk beberapa morfem yang menunjukkan fungsi gramatikal nomina dan verba yang digunakan. Kesalahan gramatikal sering terjadi pada tahap ini karena anak masih berusaha mengatakan apa yang ingin dia sampaikan. Anak terus memperbaiki bahasanya sampai usia sepuluh tahun, (c) sintaksis, anak-anak mengembangkan tingkat gramatikal kalimat yang dihasilkan melalui beberapa tahap, yaitu melalui peniruan, melalui penggolongan morfem, dan melalui penyusunan dengan cara menempatkan kata-kata secara bersama-sama untuk membentuk kalimat, (d) semantik, anak menggunakan katakata tertentu berdasarkan kesamaan gerak, ukuran, dan bentuk. Misalnya, anak sudah mengetahui makna kata jam. Awalnya anak hanya mengacu pada jam tangan orang tuanya, namun kemudian dia memakai kata tersebut untuk semua jenis jam.
 
Menurut Subyakto-Nababan dan Sri Utari (1988:65), seorang anak yang normal pertumbuhan pikirannya belajar bahasa pertama (bahasa ibu) dalam tahun-tahun pertama dalam hidupnya, dan proses ini terjadi hingga kira-kira umur 5 tahun. Seorang bayi hanya akan merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibunya yang sering didengar oleh anak. Seorang manusia tidak hanya dapat memiliki satu bahasa saja melainkan dua sampai empat bahasa tergantung dengan lingkungan sosial dan tingkat kognitif yang dimiliki oleh orang tersebut.
 
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses manusia mendapatkan kemampuan untuk menangkap, menghasilkan, dan menggunakan kata untuk pemahaman dan komunikasi. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin mengetahui mekanisme pemerolehan bahasa pada anak usia 1 (satu) tahun dan mekanisme pemerolehan bahasa pada anak usia 5 (lima) tahun.

B. Rumusan Masalah
  1. Apa yang dimaksud hakikat pemerolehan bahasa ?
  2. Bagaimana proses pemerolehan bahasa pertama ?
  3. Bagaimana Strategi pemerolehan bahasa pertama?
  4. Bagaimana perkembangan bahasa pertama ?
  5. Bagaiamana karakteristik bahasa pertama ?
C. Tujuan Penulisan
  1. Untuk mengetahui maksud dari pemerolehan bahasa pertama.
  2. Untuk mengetahui proses bahasa pertama.
  3. Untuk mengetahui karakteristik bahasa pertama.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Pemerolehan Bahasa
Istilah akuisisi bahasa ‘language acquisition’ dalam bahan kuliah ini digunakan untuk bermakna yang sama dengan istilah ‘pemerolehan bahasa’ dan atau ‘perolehan bahasa’, ketiga istilah ini agaknya sudah lama dikenal terkait dengan pembahasan bagaiman bahasa dikuasai manusia sejak lahir. Namun demikian, penggunaan istilah ‘pemerolehan bahasa’ sebagai terjemahan dari ‘language acquistion’ lebih umum digunakan, meskipun untuk pengertian yang sama dipakai juga istilah lain misalnya, “perolehan bahasa” (lihat Sri Utari Subiyakto N. 1988:65); dan bahkan ada yang menggunakan istilah “akuisisi bahasa (Lihat pateda, 1990:42; Depdikbud, 1982:4).
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan prosesproses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya.

Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu proses yang diperlukan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis yang semakin bertambah rumit ataupun teori-teori yang masih terpendam atau tersembunyi yang mungkin sekali terjadi dengan ucapan-ucapan orang tuanya sampai ia memilih berdasarakn suatu ukuran atau takaran penilaian, tata bahasa yang baik serta paling sederhana dari bahasa. Lebih jelasnya pemerolehan bahasa diartikan sebagai suatu proses yang pertama kali dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan bahasa sesuai dengan potensi kognitif yang dimiliki dengan didasarkan atas ujaran yang diterima secara alamiah.

Pembelajaran menurut Krashen diartikan sebagai suatu proses pemilihan aturan-aturan tatabahasa yang berlangsung secara sadar sebagai akibat dari pengajaran oleh guru atau sebagai hasil belajar tatabahasa secara mandiri (Huda, 1985:26). 

Pemerolehan bahasa anak melibatkan dua keterampilan, yaitu kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan memahami tuturan orang lain. Jika dikaitkan dengan hal itu, maka yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa adalah proses pemilikan kemampuan berbahasa, baik berupa pemahaman atau pun pengungkapan, secara alami, tanpa melalui kegiatan pembelajaran formal (Tarigan dkk,1998).

Ada juga pendapat Kiparsky dalamTarigan (1998) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah suatu proses yang digunakan oeh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan paling sederhana dari bahasa yang bersangkutan.

Kemerdekaan bahasa ditunjukkan mulai sekitarusia satu tahun di saat anak-anak mulai menggunakan kata-kata lepas atau kata-kata terpisah dari sandi linguistik untuk mencapai tujuan sosial mereka.Pengertian lain mengatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatupermulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi kognitif pra-linguistik (McGraw, 1987 ; 570). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pemerolehan bahasa :
  • Berlangsung dalam situasi informal, anak-anak belajar tanpa beban dan berlangsung di luar sekolah (lingkungan tempat tinggalnya).
  • Pemilikan bahasa tidak melalui pembelajaran formal di lembaga- lembaga pendidikan seperti sekolah atau kursus.
  • Dilakukan tanpa sadar atau secara spontan.
  • Dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks berbahasa yang bermakna bagi anak.
B. Proses Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama (B1) sangat erat hubungannya dengan perkembangan kognitif yakni pertama, jika anak dapat menghasilkan ucapan-ucapan yang berdasar pada tata bahasa yang teratur rapi, tidaklah secara otomatis mengimplikasikan bahwa anak telah menguasai bahasa yang bersangkutan dengan baik.Kedua, pembicara harus memperoleh ‘kategori-kategori kognitif’ yang mendasari berbagai makna ekspresif bahasa-bahasa alamiah, seperti kata, ruang, modalitas, kausalitas, dan sebagainya.Persyaratan-persyaratan kognitif terhadap penguasaan bahasa lebih banyak dituntut pada pemerolehan bahasa kedua (PB2) daripada dalam pemerolehan bahasa pertama (PB1).

Pemerolehan bahasa pertama terjadi bila anak pada awal kehidupannya tanpa bahasa kini telah memperoleh satu bahasa.Pada masa pemerolehan bahasa tersebut, bahasa anak lebih mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk ata struktur bahasanya. Anak akan mengucapkan kata berikutnya untuk keperluan komunikasinya dengan orang tua atau kerabat dekatnya.

Gracia (dalam, Krisanjaya, 1998) mengatakan bahwa pemerolehan bahasa anak dapat dikatakan mempunyai ciri kesinambungan, memiliki suatu rangkaian kesatuan, yang bergerak dari ucapan satu kata sederhana menuju gabungan kata yang lebih rumit (sintaksis).Kalau kita beranggapan bahwa fungsi tangisan sebagai awal dari kompetensi komunikasi, maka ucapan kata tunggal yang biasanya sangat individual dan kadang aneh seperti: “mamam” atau “maem” untuk makan, hal ini menandai tahap pertama perkembangan bahas formal. Untuk perkembangan berikutnya kemampuan anak akan bergerak ke tahap yang melebihi tahap awal tadi, yaitu anak akan menghadapi tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Ada dua pandangan mengenai pemerolehan bahasa (Mc Graw dalam Krisanjaya, 1998). Pertama pemerolehan bahasa mempunyai permulaan mendadak atau tiba-tiba. Kebebasan berbahasa dimulai sekitar satu tahun ketika anak-anak menggunakan kata-kata lepas atau terpisah dari simbol pada kebahasaan untuk mencapai aneka tujuan sosial mereka. Pandangan kedua menyatakan bahwa pemerolehan bahasa memiliki suatu permulaan yang gradual yang muncul dari prestasi-prestasi motorik, sosial dan kemampuan kognitif pralinguistik.

Lenneberg seorang ahli teori belajar bahasa yang sangat terkenal (1969) mengatakan bahwa perkembangan bahasa bergantung pada pematangan otak secara biologis. Pematangan otak memungkinkan ide berkembang dan selanjutnya memungkinkan pemerolehan bahasa anak berkembang. Terdapat banyak bukti, manusia memiliki warisan biologis yang sudah ada sejak lahir berupa kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan bahasa khusus untuk manusia. Bukti yang memperkuat pendapatnya itu, antara lain:
  • Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-bagian anatomi dan fisiologi manusia bagian otak tertentu yang mendasari bahasa. Tingkat perkembangan bahasa anak sama bagi semua anak normal.
  • Kelainan hanya sedikit berpengaruh terhadap keterlambatan perkembangan bahasa anak.
  • Bahasa tidak dapat diajarkan kepada mahluk lain.
  • Bahasa bersifat universal, setiap bahasa dilandasi unsur fonologi, semantik dan sintaksis yang universal.
Steinberg (1990) seorang ahli psikolinguistik , menjelaskan perihal hubungan bahasa dan pikiran. Menurutnya sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit-demi sedikit apabila ada rangsangan lingkungan sekitarnya sebagai masukan atau input. Input ini berupa apa yang didengar, dilihat dan apa yang disentuh anak yang menggambarkan benda, peristiwa dan keadaan sekitar anak yang mereka alami. Lama-kelamaan pikirannya akan terbentuk dengan sempurna. Apabila pikiran telah berbentuk dengan sempurna dan apabila masukan bahasa dialami secara serentak dengan benda, peristiwa, dan keadaan maka barulah bahasa mulai dipelajari.

Walaupun masih terdapat perbedaan tentang teori pemerolehan bahasa anak, tetapi kita semua meyakini bahwa bahasa merupakan media yang dapat dipergunakan anak untuk memperoleh nilai-nilai budaya, moral, agama, dan nilai-nilai lain yang hidup di masyarakat. Pemerolehan bahasa pertama erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak dan karenanya erat hubungannya dengan pembentukan identitas sosial. Agar anak dapat disebut menguasai bahasa pertama ada beberapa unsur penting yang berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, yaitu pemahaman tentang waktu, ruang, modalitas, sebab akibat yang merupakan bagian penting dalam perkembangan kognitif penguasaan bahasa ibu seorang anak.

Menurut McNeill (dalam Isman, 1979:21) ada tiga aspek yang kursial dalam proses pemerolehan bahasa. Ketiga aspek itu ialah (1) data linguistik primer; (2) alat pemerolehan bahasa (language acquistion device/LAD); dan (3) kemampuan berbahasa. Data linguistik primer adalah semua masukan atau input yang berupa tuturan yang didengar oleh anak dari orang-orang di lingkungannya. Dengan kata lain data linguistik primer menjadi masukan (input0 untuk diolah oleh alat pemerolehan bahasa (LAD). Hasil olahan LAD ini ialah kemampuan berbahasa sebagai keluaran (ouput). 

McNeil menggambarkan proses pemerolehan bahasa yang melibatkan ketiga aspek tersebut sebagai berikut.
Karakteristik Pemerolehan Bahasa Pertama Proses pemerolehan bahasa yang digambarkan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
  1. Anak memperoleh asukan (input) berupa tuturan (data linguistik primer) yang didengar dari orang-orang di sekitarnya. Masukan berupa data linguistik primer itu berfungsi senagai pengarah perkembangan bahasa anak selanjutnya. Artinya, apabila misalnya masukan data linguistik primernya bahasa bataka maka keluarannya dalam dalam kemampuan berbahasa Batak; begitu juga apabila masukannya berupa data linguistik primer bahasa Indonesia, maka keluarannya pun kemampuan berbahasa Indonesia.
  2. Alat pemerolehan bahasa (LAD) terdiri dari aspek-aspek dan kaidah bahasa yang universal sifatnya. Dalam hubungan proses pemerolehan di atas, LAD menerima masukan berupa data linguistik primer, kemudia melakukan identifikasidan pembeda-bedakan terhadap masukan itu. Identifikasi dan diferensi menghasilkan penggolongan-penggolangan terhadap hubungan ketatabahasaan yang sangat rumit.
  3. Keluaran (output) adalah berupa perbuatan bahasa (language perfonance) yang apabila diamati berulang-ulang dapat memberikan gambaran tentang kemampuan berbahasa (language competence) anak. Keluaran (output) dalam sistem pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh input dan proses atau pengolahan yang terjadi.
C. Strategi Pemerolehan Bahasa Pertama
Anak-anak proses pemerolehan bahasa pada umumnya menggunakan 4 strategi. Strategi pertama adalah meniru/imitasi. Strategi pertama dalam pemerolehan bahasa dengan berpedoman pada: tirulah apa yang dikatakan orang lain. Tiruan akan digunakan anak terus, meskipun ia sudah dapat sempurna melafalkan bunyi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa strategi tiruan atau strategi imitasi ini akan menimbulkan masalah besar. Mungkin ada orang berkata bahwa imitasi adalah mengatakan sesuatu yang sama seperti yang dikatakan orang lain. Akan tetapi ada banyak pertanyaan yang harus dijawab berkenaan dengan hal ini.

Ada berbagai ragam peniruan atau imitasi, yaitu imitasi spontan atau spontaneous imitation, imitasi pemerolehan atau elicited imitation, imitasi segera atau immediate imitation, imitasi terlambat delayed imitation dan imitasi dengan perluasan atau imitation with expansion, reduced imitation.
  • Strategi kedua dalam pemerolehan bahasa adalah strategi produktivitas. Produktivitas berarti keefektifan dan keefisienan dalam pemerolehan bahasa yang berpegang pada pedoman buatlah sebanyak mungkin dengan bekal yang telah Anda miliki atau Anda peroleh. Produktivitas adalah ciri utama bahasa. Dengan satu kata seorang anak dapat “bercerita atau mengatakan” sebanyak mungkin hal. Kata papa misalnya dapat mengandung berbagai makna bergantung pada situasi dan intonasi.
  • Strategi ketiga adalah strategi umpan balik antara strategi produksi ujaran (ucapan) dengan responsi.
  • Strategi keempat adalah apa yang disebut prinsip operasi. Dalam strategi ini anak dikenalkan dengan pedoman, “Gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menggunakan bahasa” (hindarkan kekecualian, prinsip khusus: seperti kata; berajar menjadi belajar).
D. Perkembangan Bahasa Anak
Menurut Piaget dan Vygotsy (dalam Tarigan, 1988), tahap-tahap perkembangan bahasa anak adalah sebagai berikut:

a. Tahap Meraban (Pralinguistik) Pertama(0,0-0,5)
Pada tahap meraban pertama, selama bulan-bulan awal kehidupan, bayi-bayi menangis, mendekut, mendenguk, menjerit, dan tertawa. Tahap meraban pertama ini dialami oleh anak berusia 0-5 bulan. Pembagian kelompok usia ini sifatnya umum dan tidak berlaku percis seperti anak. Berikut adalah rincian tahapan perkembangan anak usia 0-6 bulan berdasaran hasil penelitian beberapa ahli yang dikutip oleh Clark (1977).
  • 0-2 minggu: anak sudah dapat menghadapkan muka ke arah suara. Mereka sudah dapat membedakan suara manusia dengan suara lainnya, seperti bel, bunyi gemerutuk, dan peluit. Mereka akan berhenti menangis jika mendengar orang berbicara.
  • 1-2 bulan: mereka dapat membedakan suku kata, seperti (bu) dan (pa), mereka bisa merespon secara berbeda terhadap kualitas emosional suara manusia.
  • 3-4 bulan: mereka sudah dapat membedakan suara laki-laki dan perempuan.
  • 6 bulan: mereka mulai memperhatikan intonasi dan ritme dalam ucapan. Pada tahap ini mereka mulai meraban (mengoceh) dengan suara melodis.
Pada tahap ini perkembangan yang mencolok adalah perkembangan comprehension (komprehensi) artinya penggunaan bahasa secara pasif (Marat: 1983).

Komprehensi merupakan elemen bahasa yang dikuasai terlebih dahulu oleh anak sebelum anak bisa memproduksi apapun yang bermakna.Menurut Altmann (dalam Dardjowidjojo, 2000) bahwa sejak bayi berumur 7 bulan dalam kandungan, seorang bayi telah memiliki sistem pendengaran yang telah berfungsi. Pada hakikatnya komprehensi adalah proses interaktif yang melibatkan berbagai koalisi antara 5 faktor, yakni: sintetik, konteks lingkungan, konteks sosial, informasi leksikal dan prosodi. Walaupun bahasa itu tidak diturunkan manusia tetapi manusia memiliki kemampuan kognitif dan kapasitas linguistik tertentu dan juga kapasitas untuk belajar (Marat: 1983). Dalam hal ini sekali lagi peran orang tua, eluarga, lingkungan, bahkan pengasuh anak sangat diperlukan dalam proses pengembangan bahasa secara optimal.

b. Tahap Meraban Kedua (0,5-1,0)
Tahap ini anak mulai aktif artinya tidak sepasif sewaktu ia berada pada tahap meraban pertama. Secara fisik ia sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti memegang dan mengangkat benda atau menunjuk. Berkomunikasi dengan mereka mulai mengasyikan karena mereka mulai aktif memulai komunikasi, kita lihat apa saja yang dapat mereka lakukan pada tahap ini.

#5-6 bulan
Dari segi komprehensi kemampuan bahasa anak semakin baik dan luas, anak semakin mengerti beberapa makna kata, misal: nama, larangan, perintah dan ajakan. Hal ini menunjukkan bahwa bayi sudah dapat memahami ujaran orang dewasa. Disamping itu bayi sudah dapat melakukan gerakan-gerakan seperti mengangkat benda dan secara spontan memperlihatkannya kepada orang lain (Clark: 1997).

Menurut tarigan (1985) tahap ini disebut juga tahap kata omong kosong, tahap kata tanpa makna. Ciri-ciri lain yang menarik selain yang disebutkan tadi adalah: ocehan, seringkali dihasilkan dengan intonasi, kadang-kadang dengan tekanan menurun yang ada hubungannya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Pada saat si anak mulai aktif mengoceh orang tua juga harus rajin merespon suara dan gerak isyarat anak. Menurut Tarigan (1985), orangtua harus mengumpan balik auditori untuk memelihara vokalisasi ana, maksudnya adalah agar anak tetap aktif meraban. Sebagai langkah awal latihan ialah mengucapkan kata-kata yang bermakna.

#7-8 bulan

Pada tahap ini orang tua sudah bisa mengenalkan hal baru bagi anaknya, artinya anak sudah bisa mengenal bunyi kata untuk obyek yang sering diajarkan dan dikenalkan oleh orang tuanya secara berulang-ulang.Orang dewasa biasanya mulai menggunakan gerakan-gerakan isyarat seperti menunjuk.Gerakan ini dilakukan untuk menarik perhatian anak, karena ibu ingin menunjukkan sesuatu dan menawarkan sesuatu yang baru dan menarik (Clark, 1997).

Kemampuan anak untuk merespon apa yang dikenalkan secara berulang-ulang pun semakin baik, misal: melambaikan tangan ketika ayahnya pergi, bertepu tangan, dan sebagainya. Seperti halnya anak-anak, orang tua pun akan merasa puas dan gembira jika segala usaha untuk mengajari anaknya akan mendapat respon. Artinya segala usaha orang tua ketika mengatakan sesuatu, menunjukkan atau memperlihatkan sesuatu pada anaknya; mendapat respon si anak karena anak paham dan perkembangan bahasanya sesuai dengan perkembangan usianya.

#8 bulan s/d 1 tahun
Pada tahap ini anak sudah dapat berinisiatif memulai komunikasi.Ia selalu menarik perhatian orang dewasa, selain mengoceh ia pun pandai menggunakan bahasa isyarat. Misalnya dengan cara menunjuk atau meraih benda-benda.

Pada tahap ini peran orang tua masih sangat besar dalam pemerolehan bahasa pertama anak.orang tua harus lebih aktif merespon ocehan dan gerakan isyarat anak. Karena kalau orang tua tidak memahami apa yang dimaksud anak, anak akan kecewa dan untuk masa berikutnya anak akan pasif dalam berkomunikasi dengan lingkungannya.

Menurut Marat (1983) anak pada periode ini dapat mengucapkan beberapa suku kata yang mungkin merupakan reaksi terhadap situasi tertentu atau orang tertentu sebagai awal suatu simbolisasi karena kematangan proses mental (kognitif). Dengan kata lain kepandaian anak semakin meningkat. Semakin pandai si ana, pada akhirnya perkembangan meraban kedua telah tercapai.Anak akan mulai belajar mengucapan kata pada periode berikutnya yang disebut periode/tahap linguistik.

1.Tahap Linguistik
Jika pada tahap pralinguistik pemerolehan bahasa anak belum menyerupai bahasa orang dewasa maka pada tahap ini anak mulai bisa mengucapkan bahasa yang menyerupai ujaran orang dewasa.Para ahli psikolinguistik membagi tahap ini ke dalam lima tahapan, yaitu:

2.Tahap I, tahap Holofrastik (Tahap Linguistik pertama, 1,0-2,0)
Pada usia 1-2 tahun masuan kebahasan berupa pengetahuan anak tentang kehidupan di sekitarnya semakin banyak, misal: nama-nama keluarga, binatang, mainan, makanan, kendaraann, dan sebagainya. Faktor-faktor masukan inilah yang memungkinkan anak memperoleh semantik (makna kata) dan kemudian secara bertahap dapat mengucapkannya.

Tahap ini adalah tahap di mana anak sudah mulai mengucapkan satu kata. Menurut Tarigan (1985). Ucapan-ucapan satu kata pada periode ini disebut holofrase/holofrastik karena anak-anak menyatakan makna keseluruhan frase atau kalimat dalam satu kata yang diucapkannya itu. Tahap holofrase ini dialami oleh anak normal yang berusia sekitar 1-2 tahun. Waktu berakhirnya tahap ini tidak sama pada setiap anak. Ada anak yang lebih cepat mengakhirinya, tetapi ada pula yang sampai umur anak 3 tahun.

Pada tahap ini gerakan fisik sangat menyentuh, menunjuk, mengangkat benda dikombinasikan dengan satu kata. Seperti halnya gerak isyarat, kata pertama yang digunakan bertujuan untuk memberi komentar terhadap objek atau kejadian di dalam lingkungannya. Satu kata itu dapat berupa perintah, pemberitahuan, penolakan, pertanyaan, dan lain-lain. Di samping itu menurut Clark (1977) anak berumur 1 tahun menggunakan bahasa isyarat dengan komunikatif. Fungsi gerak isyarat dan kata manfaatnya bagi ana itu sebanding. Dengan kata lain, kata dan gerak itu itu sama pentingnya bagi anak pada tahap holofrasa ini.

3.Tahap II, kalimat Dua Kata (2,0-3,0)
Kanak-kanak memasuki tahap ini dengan pertama sekali mengucapkan dua holofrase dalam rangakaian yang cepat (Tarigan, 1980).Keterampilan anak pada akhir tahapa ini makin luar biasa. Komunikasi yang ingin ia sampaikan adalah bertanya dan meminta. Kata-kata yang digunakan untuk itu semua sama seperti perkembangan awal yaitu: sana, sini, itu, lihat, mau, dan minta.

Selain keterampilan mengucapan dua kata, ternyata pada periode ini si anak terampil melontarkan kombinasi antara informasi lama dan baru. Pada periode ini tampak sekali kreativitasznzk. Keterampilan tersebut muncul pada anak dikarenakan makin bertambahnya pembendaharaan kata yang diperoleh dari lingkungannya dan juga karena perkembangan kognitif serta fungsi biologis pada anak.

4.Tahap Linguistik III: Pengembangan Tata Bahasa (3,0-4,0)
Pada tahap ini perkembangan ana makin luar biasa. Marat (1983) menyebutkan perkembangan ini dengan kalimat lebih dari dua kata dan periode diferensiasi. Tahap ini pada umumnya dialami oleh anak berusia sekitar 2,5 tahun – 5 tahun. Anak mulai sudah dapat bercakap-cakap dengan teman sebaya dan mulai aktif memulai percakapan. Fase sebelumnyasampai tahap perkembangan 2 kata anak lebih banyak bergaul dengan orang tuanya. Sedangkan pada tahap ini pergaulan anak makin luas yang berarti menambah pengetahuandan menambah perbendaharaan kata. 

Menurut Marat (1983) ada beberapa keterampilan mencolok yang dikuasai anak pada tahap ini:
  • Pada akhir periode ini secara garis besar ana telah menguasai bahasa ibunya, artinya kaidah-kaidah tata bahasa yang utama dari orang dewasa telah dikuasai.
  • Perbendaharaan kata berkembang, beberapa pengertian abstrak seperti: pengertian waktu, ruang, dan jumlah yang diinginkan mulai muncul.
  • Mereka mulai dapat membedakan kata kerja (contoh: makan, minum,pergi, masak, mandi), kata ganti (aku, saya) dan kata kerja bantu (tidak, bukan, mau, sudah, dsb).
  • Fungsi bahasa untuk berkomunikasi betul-betul mulai berfungsi; anak sudah dapat mengadakan konversasi (percakapan) dengan cara yang dapat dimengerti oleh orang dewasa.
  • Persepsi anak dan pengalamannya tentang tentang dunia luar mulai ingin dibaginya dengan orang lain,dengan cara memberian kritik, bertanya, menyuruh, memberi tahu, dan lain-lain.
  • Tumbuhnya kreativitas anak dalam pembentukan kata-kata baru. Gejala ini merupakan cara anak untuk mempelajari perkataan baru dengan cara bermain-main. Hal ini terjadi karena memang daya fantasi anak pada tahap ini sedang berkembang pesat.
5. Tahap Linguistik IV: Tata Bahasa Menjelang Dewasa/Pradewasa (4,0-5,0)
Pada tahap ini anak sudah mulai menerapkan struktur tata bahasa dan kalimat-kalimat yang agak lebih rumit. Misal, kalimat majemuk sederhana seperti di bawah ini:
  • mau nonton sambil makan keripik
  • mama beli sayur dan kerupuk
  • ayo nyanyi dan nari
Kemampuan menghasilkan kalimat-kalimatnya sudah beragam, ada kalimat pernyataan/kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya. Kemunculan kalimat-kalimat rumit di atas menandakan adnya peningkatan kemampuan kebebasan anak. Menurut Clark (1977) pada tahap ini anak masih mengalami kesulitan bagaimana memetakan ide ke dalam bahasa.Maksudnya adalah si anak mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikirannya ke dalam kata-kata yang bermakna. Hal ini karena anak memiliki keterbatasan-keterbatasan seperti: penguasaan struktur tata bahasa, kosa kata dan imbuhan.

6. Tahap Linguistik V : Kompetensi Penuh (5,0-)
Sejak usia 5 tahun pada umumnya anak-anak yang perkembangannya normal telah menguasai elemen-elemen sintaksis bahasa ibunya dan telah memiliki kompetensi (pemahaman dan produktivitas bahasa) secara memadai. Walau demikian, perbendaharaan katanya masih terbatas tetapi terus berkembang/bertambah dengan kecepatan yang mengagumkan.

Menurut Tarigan (1988) salah satu perluasan bahasa sebagai alat komunikasi yang harus mendapat perhatian khusus di sekolah dasar adalah pengembangan baca tulis (melek huruf). Perkembangan baca tulis anak akan memanjang serta memperluas pengungkapan maksud-maksud pribadi si anak, misal melalui penulisan catatan harian, menulis surat, jadwal harian dsb. Dengan demikian perkembangan baca tulis di sekolah dasar memberikan cara-cara yang mantap menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan orang lain dan juga dengan dirinya sendiri.

Pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada usia remaja, terjadi perkembangan bahasa yang penting. Periode ini menurut Gielson (1985) merupakan unsur yang sensitif untuk belajar bahasa. Remaja menggunakan gaya bahasa yang khas dalam berbahasa, sebagai bagian dari terbentuknya identitas diri. Akhirnya pada usia dewasa terjadi perbedaan-perebedaan yang sangat besar antara individu yang satu dengan yang lain dalam hal perkembangan bahasanya. Hal ini bergantung pada tingkat pendidikan, peranan dalam masyarakat dan jenis pekerjaan.

E. Karakteristik Bahasa Pertama
Untuk waktu yang cukup lama kesalahan bahasa yang dibuat oleh anak-anak ketika berkomunikasi dianggap sebagai hasil interferensi bahasa ibunya (Lado, 1975). Oleh karena itu, penganut aliran ini mencari sebab-sebab kesalah dengan cara membandingkan bahasa sasaran (target languange) dengan bahasa ibu anak. Berdasarkan hasil perbandingan itu didapatkanlah perbedaan anatara bahasa yang diperbandingkan itu yang pada gilirannya akan dapat dilakukan hal-hal berikut:
  1. Peramalan semua kesulitan siswa dalam memperjari bahasa sasaran.
  2. Menyusun hirarki kesulitan yang bakal dialami siswa dalam mempelajari bahasa tersebut (Baradja, 1981:4)
Penganut aliran ini menyakinkan bahwa hasil perbandingan fonologi, morfologi, dan sintaksis yang berbeda dari kedua bahasa yang diperbandingkan dapat menimbulkan kesulitan belajar bahasa, sebaliknya, yang sama tidak. Robert Lado (1957:2) menyatakan bahwa Those elements that are similiar to the (learner’s) native languange will be difficult. Selanjutnya pertanyaan yang lebih tegas dikemukakan pula oleh Polizer (1967:151). Perhaps the least questioned and least questioneed and least questianable application of linguistic is the contribution of contrastive analysis. Especially in the teaching of langusnge for which no considerable and sistematic teaching experience is avaible, contrastive analysis an highlight and predict the difficulties of the pupils.

Sebenarnya sudah lam sekali Uriel Weinreich (1968:1). Salah seorang ahli bahasa yang menunjukkan pertma kali adanya gejala interferensi dalam proses belajar bahasa kedua, menjelaskan bahwa, interference implies the arrangment of pattern. Seorang yang belajar bahasa kedua akan memperoleh aspek-aspek kebahasaan, yakni aspek bunyi, sintaksis dan makna. Dalam aktivitas menyusun aspek-aspek kebahasaan itulah, baik pengurangan atau penambahan sistem bahasa, diperlukan reorganisasi. Berangkat dari saran yang dilontarkan oleh Weinreich itulah, Namser (Richard, 1974:55-63) mengembangkan konsep approximative system, yakni sistem linguistik yang menyimpang yang belajar bahasa ketika ia mencoba menggunakan bahasa yang dipelajari.

Konsep Approximative System berasumsi bahwa anak yang sedang belajar bahasa, mendengarkan dan mempelajari tuturan orang-orang yang disekitarnya. Namun anak membuat kalimat-kalimat yang kaidah penyusunan menyimpang dipandang dari bahasa ibu maupun bahasa sasaranya. Richards (1974) menemukan dalam studinya terhadap bahasa anak yang sedang belajar bahasa terdapat kesalahan intralinguil yang sistematis, meliputi generalisasi berlebihan (overgeneralization), pengabaian kaidah, penerapan kaidah yang tidak lengkap, dan kesalahan semantik.

Strategi berbahasa seperti itu jika dipandang dari teori monitor (Huda, 1986), dapat dikatakan bahwa kesalahan yang empat macam itu muncul karena anak sebagai pembicara kurang begitu sadar terhadap aturan-aturan tata bahasa yang dipakainya. Dengan kata lain, ia tidak dapat menerangkan mengapa dia menggunakan struktur tertentu ketika berbicara. Ketidaktatabahasaan tuturan lisan anaka, jika dipandang dari kaidah berbahasa orang dewasa, terjadi karena dalam berkomunikasi alamiah itu anak cenderung lebih memperhatikan penyampaian isi pesan daripada bentuk bahasa yang digunakannya (Huda, 1986:40).

Tuturan anak dikatakan sistematis jika dalam tuturannya terdapat keajekan internal dalam pemakaian item kebahasaan, kaidah, atau subsistem tertentu dipergunakan untuk satu waktu tertentu. Tuturan itu disebut stabil jika item kebahasaan, kaidah, atau  subsitem kebahasaan tertentu dipergunakan anak berulang-ulang pada satu tahap perkembangan tertentu (Tarone, Frounfelder, dan Salinker, 1976).

Bentuk-bentuk kreatif yang muncul di sepanjang garis kontinum itu tidak hanya menunjukkan penggantian item-item atau subsitem bahasa tertentu dengan item-item atau subsitem yang lain, melainkan juga memperlihatkan adanya peningkatan kekompleksan dari bentuk-bentuk yang dipakai oleh anak atau si pembelajar bahasa. Munculnya bentuk-bentuk kreatif yang kompleks akan terus berkembang sejalan dengan pengalaman yang diperoleh dan kematangan dan kognitif dan emosional anak.

Semakin banyak pengalaman berbahasa, semakin matang kognitif dan emosional anak, akan semakain kompleks pulalah bentuk-bentuk bahasa yang diapakai anak. Ini berarti pula bahwa tingkatan kemampuan bahasa anak semakin tinggi kedudukannya dalam kontinum, dan semakin dekta pulalah bahasa anak bahasa anak pada norma bahasa orang  dewasa. Semua itu yankni penggantian item-item dan subsistem bahasa, pembentukan kalimat-kalimat yang kreatif dan bersifat sementara itu, terjadi karena adanya alat akuisisi bahasa (chomsky, 1965; david MnNeil, 1966) atau sebuah alat yang oleh Corder (Richards, 1978) disebut sebagai alat yang mengatakan keluaran bahasa anak berdasarkan kompetensi bahasa yang dicapai pada tingkatan tertentu.  

BAB III 
PENUTUP

A. Kesimpulan 
Pemerolehan Bahasa merupakan sebuah hal yang sangat menajubkan terlebih dalam proses pemerolehan bahasa pertama yang dimiliki langsung oleh anak tanpa ada pembelajaran khusus mengenai bahasa tersebut kepada seorang anak (Bayi). Seorang bayi hanya akan merespon ujaran-ujaran yang sering didengarnya dari lingkungan sekitar terlebih adalah ujaran ibuya yang sangat sering didengar oleh anak tersebut.

Dalam proses perkembangan, semua anak manusia yang normal paling sedikit memperoleh satu bahasa alamiah. Dengan perkataan lain setiap anak yang normal atau pertumbuhan yang wajar, memperoleh suatu bahasa yaitu bahasa pertama atau bahasa asli, bahasa ibu dalam tahun-tahun pertama kehidupan di dunia ini. Namun dalam pertumbuhan dan perkembangannya, tak jarang ditemukan anak-anak yang mempunyai permasalahan dalam berbahasa, seperti kesulitan dalam mengucapkan suatu bunyi sampai melakukan sebuah kesalahan berbahasa. Sebenarnya banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinyanya hal tersebut. 

DAFTAR PUSTAKA 

Arifuddin. 2013. Neuropsikolinguistik. Jakarta: RajawaliPers

Daulay, Syahnan. 2011. Pemerolehan dan Pembelajaran Bahasa. Bandung: CitaPustaka

Tarigan, Henry Guntur. 2009. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa

Rohman. 2015. Mekanisme Pemerolehan Bahasa. Jurnal Pesona Vol. 1 No. 2.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Karakteristik Pemerolehan Bahasa Pertama "

  1. tulisan nya kyak buat laporan aja nih hha. teringat masa itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha,,, iya ni,, sayang tulisannya tertidur di laptop,. mending saya share aja

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel