Konsep Tentang Objektivitas Ilmu Sosial Misalnya Ilmu Bahasa

KATA PENGANTAR


Alhamdulillah segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik yang berjudul “Konsep Tentang Objektivitas Ilmu Sosial Misalnya Ilmu Bahasa” tugas ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan tugas mata kuliah filsafat bahasa diberikan oleh bapak Dr. M. Joharis Lubis, M.Pd.

Ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua kami dan dosen pengampu mata kuliah filsafat bahasa yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan tugas ini. 

Kiranya seluruh perhatian, kebaikan, dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis menjadi amal kebaikan dan dibalas dengan sebaiknya-baiknya oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin. Akhir kata, penulis menyampaikan semoga tugas ini dapat bermanfaat dan menambah khasanah berpikir bagi kami sebagai pemakalah dan para pembaca lainnya. 

                                                                                                                                 Medan,   April 2018

BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

Jika kita sekarang mempelajari berbagai hal berkaitan tentang ilmu pengetahuan, maka kita tentu harus ingat pula keberadaan filsafat sebagai induk dari ilmu pengetahuan itu. Hal itu dapat diyakini kebenarannya karena filsafat melahirkan berbagai ilmu pengetahuan yang ada sampai dengan sekarang ini. Sebagai induk dari ilmu maka filsafat berusaha untuk menjawab serta memahami atau mengerti tentang makna kehidupan dan nilai-nilainya. 
Pemaknaan nilai-nilai yang ada di dunia ini menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan kebenaran dan nilai-nilai. Hal ini dapat dimaknai bahwa tanpa kemampuan berbahasa, manusia tidak akan mungkin mengembangkan kebudayaannya, sebab tanpa bahasa maka hilanglah kemampuan untuk meneruskan nilai-nilai dari generasi satu ke generasi berikutnya. Dinyatakan pula bahwa “tanpa bahasa” simpul Aldous Huxiey maka manusia tidak jauh berbeda dengan anjing atau monyet.”

Sehubungan dengan pembahasan tentang kebenaran dan objektivitas dalam ilmu (Pembahasan yang sangat rumit bagi penulis) penulis berupaya untuk menguraikan sedikit tentang apa itu Objektivitas dan kebenaran, Hubungan antara metode dengan kebenaran ilmu termasuk didalam tentang beberapa pandangannya, standarisasi ilmu dan sifat kebenaran ilmu.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka terdapatlah rumusan masalah tersebut yaitu:
1)    Apakah pengertian filsafat bahasa?
2)    Bagaimana konsep tentang objektivitas?
3)    Bagaimana teori kebenaran?
4)    Bagaimana pembahasan objektivitas dalam ilmu sosial?

1.3 Tujuan Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka dapat ditarik tujuan pembahasan yaitu:
1)    Untuk mengetahui pengertian filsafat.
2)    Untuk mengetahui pengertian bahasa.
3)    Untuk mengetahui konsep tentang objektivitas.
4)    Untuk mengetahui teori kebenaran.
5)    Untuk mengetahui pembahasan objektivitas dalam ilmu sosial.

BAB II

PEMBAHASAN


2.1    Pengertian Filsafat Bahasa

Secara etimologis kata “Filsafat” berasal dari Bahasa Yunani, yaitu dari kata “philo” (cinta) dan”sophia” (kebenaran). Menurut I.R. Pudjawijatna (1963: 1), “Filo” artinya cinta dalam arti yang seluasluasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha mencapai yang diinginkannya itu. Adapun “Sofia” artinya kebijaksanaan, bijaksana artinya pandai, mengerti dengan mendalam.

Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu (pengetahuan), yang merupakan dasar dari semua   pengetahuan dalam meliput isu-isu epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab pertanyaan tentang apa yang dapat kita ketahui. Sedangkan menurut Plato, filsafat adalah ilmu yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang sebenarnya.
Menurut Notonegoro filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat. Maka dapat disimpulkan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.

Menurut Kridalaksana (2010: 112) bahasa merupakan sistem bunyi yang bermakna dan digunakan untuk berkomunikasi oleh setiap kelompok manusia. Sedangkan menurut Wibowo (2001:3), bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Dari pendapat di yang terdapat di atas maka dapat disimpulkan bahasa adalah bahasa adalah alat untuk beriteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau perasaan.

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat disimpulkan pengertian filsafat bahasa adalah ialah suatu penyelidikan secara mendalam terhadap bahasa yang dipergunakan dalam filsafat.

2.2 Konsep Objektivitas

Menurut Laorence B. Soyer, mortimer A. dittenhofer dan james H. Scheiner yang diterjemahkan oleh Desi Anhariani obektivitas adalah suatu hal yang langka dan hendaknya tidak dikompromikan. Menurut Siti Kurnia (2009: 52) objektivitas adalah harus bebas dari masalah benturan kepentingan (conflict and interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji material yang diketahuinya atau mengalihkan pertimbangannya kepada pihak lain. Sedangkan menurut Bomstein (1999) menggambarkan obyektifitas sebagai keadaan mental, tidak terpengaruh oleh perasaan, bias, atau prasangka mengandalkan secara eksklusif pada fakta dan subjektivitas sebagai keadaan mental di mana pemikiran mencerminkan pribadi perspektif individu dan bukan fakta universal.
Maka dapat disimpulkan objektivitas adalah hal yang dapat dipahami sebagai sebuah sikap yang menggambarkan adanya kejujuran, bebas dari pengaruh pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dan lain-lain khususnya dalam upaya untuk mengambil sebuah keputusan atau tindakan.
 Dalam konteks keilmuan objektivitas hanya dapat diakui jika dan hanya melalui prosedur yang absah berdasarkan konsep metode ilmiah. Jika sesuai dengan syarat dan prosedur metode ilmiah maka penemuan tersebut bisa disebut objektif dan jika tidak maka disebut sebagai sesuatu yang tidak objektif dan karenanya dianggap nisbi. Selanjutnya dengan metode ilmiah itu sebuah ilmu benar-benar bisa diakui objektif atau bebas nilai. Meskipun dalam tataran historis sesuatu yang kemudian terbantahkan adalah objektivitas mengapa selalu berubah-ubah seiring dengan bergulirnya waktu, khususnya perkembangan sains dan teknologi. Bukankah semestinya, sesuatu yang objektif di masa lalu juga objektif di masa sekarang dan yang akan datang. Karena objektif itu seringkali dipahami identik dengan ada, maka bahasan ontologi menjadi perlu untuk dijadikan bahasan awal dalam pemaparan mengenai objektifitas itu sendiri. Masalah ontologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Termasuk dalam pandangan terhadap hakikat ilmu ini adalah pandangan terhadap sifat ilmu itu sendiri. Selain itu, secara historis kajian ontologi merupakan bahasan filsafat yang paling tua. Hal ini dikarenakan rasa ingin tahu manusia terhadap hakikat segala sesuatu yang ada termasuk eksistensinya sebagai manusia. Masalah ontologi adalah bagian dari filsafat ilmu yang membahas pandangan terhadap hakikat ilmu atau pengetahuan ilmiah. Termasuk dalam pandangan terhadap hakikat ilmu ini adalah pandangan terhadap sifat ilmu itu sendiri. Dalam kajian ilmu-ilmu sosial misalkan, khususnya dalam kajian perbandingan antara pandangan ilmiah dan ajaran Islam dapat dilihat dalam beberapa bahasan. Pertama mengenai pandangan terhadap ilmu sosial itu sendiri, kedua tentang sifat pengetahuan ilmiah, dan ketiga, masalah objektivitas dan nilai dalam ilmu-ilmu sosial.

Secara faktual, keberadaan manusia bukanlah sesuatu yang lahir dari kesadaran dirinya, namun disebabkan oleh suatu kehendak di luar dirinya yang mengharuskan manusia itu sendiri secara pribadi menerima dirinya apa adanya. Manusia sama sekali tidak mengerti mengapa dia berjenis kelamin pria atau wanita dan lahir dari wanita bangsawan ataupun wanita biasa. Maka dengan kondisi demikian, kajian ontologi dengan sendirinya akan memberikan dampak positif dalam pemaknaan diri dan kehidupan manusia itu sendiri.

Pengamatan yang mendalam terhadap kehidupan ini secara otomatis akan mengantarkan manusia pada satu kesadaran dimana dia akan mencari sang pencipta yang tidak lain adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara alamiah konsep kebetulan tidaklah dapat diterima logika sehat. Sebab secara faktual, pengalaman kehidupan, tidak ada yang ada secara sendiri, demikian juga halnya, tidak ada yang ada secara kebetulan, karena yang disebut kebetulan itu pada dasarnya ada oleh adanya proses yang ada di luar dirinya yang tidak ia ketahui, sehingga ia mengatakan ada itu, ada secara kebetulan, kesimpulan semacam ini tentu keliru, karena telah menegasikan hakikat fakta yang merealita.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha pemikiran yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu objek kajian ilmu. Apakah objek kajian ilmu itu, dan seberapa jauh tingkat kebenaran yang bisa dicapainya dan kebenaran yang bagaimana yang bisa dicapai dalam kajian ilmu, kebenaran objektif, subjektif, absolut atau relatif.

Epistemologi juga bisa diartikan sebagai studi yang menganalisis dan menilai secara kritis tentang mekanisme dan prinsip-prinsip yang membentuk keyakinan. Wilaya epistemologi ini setidaknya berkaitan dengan tiga disiplin, yaitu metafisika, logika, dan psikologi. Oleh karena itu Muhammad Bair ash-Shadr menyatakan, “jika sumber-sumber pemikiran manusia, kriteria-kriteria dan nilai pengetahuannya tidak ditetapkan, maka tidaklah mungkin melakukan studi apapun, bagaimanapun bentuknya. Dengan demikian persoalan epistemologi menempati pokok bahasan yang begitu penting dan mendasar. Sering juga epistemologi disebut sebagai teori pengetahuan (theory of knowledge) yang secara bahasa berasal dari kata ‘episteme’ yang artinya pengetahuan, dan ‘logos’ yang artinya teori. Sehingga epistemologi juga didefinisikan sebagai dimensi filsafat yang mempelajari asal mula, sumber, manfaat, dan shahihnya pengetahuan, yang secara sederhana bisa dilihat dari bagaimana cara mempelajari, mengembangkan dan memanfaatkan ilmu bagi kemaslahatan manusia.


2.3 Teori Kebenaran

Kebenaran tertuang dalam uangkapan-ungkapan yang diangap benar, misalnya hukum-hukum, teori-teori, ataupun rumus-rumus filsafat, juga kenyataan yang dikenal dan diungkapkan. Mereka muncul dan berkembang maju sampai pada taraf kesadaran dalam diri pengenal dan masyarakat pengenal. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis, dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang-ada mengungkapkan diri kepada akalbudi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.

Menurut teori kebenaran metafisis/ontologis, kebenaran adalah kualitas individual atas objek, ia merupakan kualitas primer yang mendasari realitas dan bersifat objektif, ia didapat dari sesuatu itu sendiri. Kita memperolehnya melalui intensionalitas, tidak diperoleh dari relasi antara sesuatu dengan sesuatu (misal: kesesuaian antara pernyataan dengan fakta). Dengan demikian kebenaran metafisis menjadi dasar kebenaran epistemologis, pernyataan disebut benar kalau memang yang mau dinyatakan itu sungguh ada. Sesuatu mesti diketahui dahulu baru dinyatakan.

a.    Hubungan antara metode dengan kebenaran ilmu

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah, artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa adanya tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Secara metafisis kebenaran ilmu bertumpu pada objek ilmu, melalui penelitian dengan dukungan metode serta sarana penelitian maka diperoleh suatu pengetahuan. Semua objek ilmu benar dalam dirinya sendiri, karena tidak ada kontradiksi di dalamnya. Kebenaran dan kesalahan timbul tergantung pada kemampuan menteorikan fakta. Bangunan suatu pengetahuan secara epistemologis bertumpu pada suatu asumsi metafisis tertentu, dari asumsi metafisis ini kemudian menuntut suatu cara atau metode yang sesuai untuk mengetahui objek. Dengan kata lain metode yang dikembangkan merupakan konsekuensi logis dari watak objek. Oleh karena itu pemaksaan standar tunggal pengetahuan dengan paradigma tertentu merupakan kesalahan, apapun alasannya, apakah itu demi kepastian maupun objektivitas suatu pengetahuan. Secara epistemologis kebenaran adalah kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya yang menjadi objek pengetahuan. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara subjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan realitas sebagaimana adanya.

Setiap tradisi epistemologi beranggapan bahwa kebenaran suatu pengetahuan dapat diperoleh berkat metode yang dipergunakannya, adapun pandangannya adalah sebagai berikut:

1)    Empirisme
Empirisme sangat menghargai pengamatan empiris dan cara kerja a posteriori Empirisme bertitik tolak dari adanya dualitas antara pengenal dan apa yang dikenal. Mereka menginginkan agar apa yang terdapat dalam pengetahuan pengenal bersesuaian dengan kenyataan yang ada di luarnya. Mereka memberi peran yang besar pada objek yang mau dikenal, sedang pengenal bersifat pasif. Teori Kebenaran Korespondensi adalah sarana bagi mereka untuk menguji hasil pengetahuan, menurut teori ini suatu pernyataan dikatakan benar bila sesuai dengan fakta empiri yang menjadi objeknya. Menurut Abbas, teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal, sehingga dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal (sebelum abad Modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya. Kelemahan teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang cermatnya penginderaan, atau indera tidak normal lagi. Di samping itu teori kebenaran korespondensi tidak berlaku pada objek/bidang nonempiris atau objek yang tidak dapat diinderai. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, ia harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam pembentukan objektivanya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari kenyataan subjek.

2)    Rasionalisme
Spinoza dan Hegel amat menekankan pada pengenal dibanding dengan apa yang dikenal sebagai suatu kenyataan, mereka adalah tokoh yang menekankan dibangunnya pengetahuan yang bersifat a priori sebagaimana ilmu falak dan mekanika. Ilmu falak dan mekanika tidak bisa memakai kenyataan objektif untuk mendukung pernyataan-pernyataan teoritisnya, karena menurutnya ilmu cukup bertumpu pada kerangka teoritis yang bersifat a priori. Mereka menggunakan Teori Kebenaran Koherensi dalam menguji produk pengetahuannya. Teori Kebenaran Koherensi berpandangan bahwa suatu pernyataan dikatakan benar bila terdapat kesesuaian antara pernyatan satu dengan pernyataan terdahulu atau lainnya dalam suatu sistem pengetahuan yang dianggap benar. Sebab sesuatu adalah anggota dari suatu sistem yang unsur-unsurnya berhubungan secara logis. Teori kebenaran koherensi tergolong dalam teori kebenaran yang tradisional. Selain melalui hubungan gagasaan-gagasan secara logis-sistemik, ada beberapa cara pembuktian dalam berpikir rasional, yaitu melalui hukum-hukum logika dan perhitungan matematis. Kebenaran koherensi mempunyai kelemahan mendasar, yaitu terjebak pada penekanan validitas, teorinya dijaga agar selalu ada koherensi internal. Suatu pernyataan dapat benar dalam dirinya sendiri, namun ada kemungkinan salah jika dihubungkan dengan pernyataan lain di luar sistemnya. Hal ini bisa mengarah pada relativisme pengetahuan. Misal pada jaman Pertengahan ilmu bertumpu pada mitos dan cerita rakyat, kebenaran argumen tidak pernah bertumpu pada pengalaman dunia luar.

Beberapa pandangan tentang kebenaran tak terelakkan mengarah kepada relativisme, Filsafat adalah merupakan contoh dari suatu sistem yang mempertahankan kebenaran hingga mengarah ke bentuk solid. Lingkungan dari berbagai budaya sepertinya mengadopsi kebenaran yang berbeda satu dengan lainnya karena di sana tidak ada jalan untuk membandingkan secara transkultural. Popper mengatakan, kita terkurung dalam kerangka teori kita, ekspektasi kita, pengalaman lampau kita, dan bahasa kita. Dalam perjalanan sejarah Ilmu, ilmu modern (Positivisme) berusaha melakukan standarisasi metode dan kebenaran pengetahuan. Faham Positivisme menginginkan satu standar bagi pengetahuan dan keyakinan manusia yaitu ilmu. Menurutnya ilmu lebih unggul baik dalam metode maupun kebenaran disbanding pengetahuan dan keyakinan lainnya. Gadamer menginginkan standar metode yang berbeda untuk ilmu humaniora, karena menurutnya historia adalah sumber kebenaran yang sepenuhnya berbeda dengan alasan teoritis. Demikian juga Dilthey dan Weber menginginkan pendekatan yang berbeda untuk dunia sosial, mereka menetapkan teori kritis tentang masyarakat. Kata “benar” yang dipergunakan dalam ilmu, agama, spiritualitas, estetika adalah sama, namun semuanya tidak dapat diukur dengan standard yang sama (inkommensurabel), tidak ada satupun yang benar-benar menunjuk pada klaim bahwa suatu pernyataan adalah benar dalam suatu makna kata namun bermakna salah pada lainnya. Misal: kata “ilmu penciptaan” sebagai pemilik kebenaran menjadi bermakna keteraturan (kosmos) diterima sebagai ilmiah namun tujuannya tidak ilmiah dan dua jenis kebenaran tersebut tidak sama. Sulit untuk menyatakan ”benar” tentang keyakinan ataupun visi dari suatu masyarakat atau budaya. Karena itu sulit untuk menilai tingkat kebenaran misalnya antara filsafat Barat dan filsafat Cina, sebab masing-masing punya cakupan, kompleksitas dan variasi yang berbeda.  Sekarang apakah pemakaian bahasa merupakan suatu keharusan dalam ilmu? Roger mengatakan bahwa semua kebenaran ilmiah adalah provisional. Pemakaian suatu bahasa dalam rumusan yang lugas dan abstrak bahkan jauh dari nuansa keseharian adalah tidak dapat dihindarkan. Usaha tersebut untuk menghindari pola intuisi yang kadang salah dan tidak bermakna. Apapun bentuk rasionalisasi internal dari ilmuwan tetap membutuhkan pengkomunikasian kebenaran kepada ilmuwan lain, apakah dalam rumusan matematika ataupun rumusan lainnya. Kebenaran ilmiah tidak dapat dipisahkan dari bahasa dalam arti umum, termasuk matematika. Menurut para sosiolog, ilmu adalah suatu aktivitas sosial . Merumuskan suatu pernyataaan adalah usaha mengkomunikasikan, oleh karena itu membutuhkan konsep dan bahasa untuk dapat menyatakannya; jadi kebenaran tidak dapat dipisahkan dari konsep manusia dan alat linguistic. Secara epistemologis kebenaran memegang peranan penting bagi komunikasi antara penghasil pengetahuan kepada yang mewarisinya atupun kepada tradisi epistemologi lainnya.

Wittgenstein dalam pemikiran awalnya berpendapat bahwa dasar penilaian kebenaran dari proposisi adalah kemungkinan ada dan tidaknya fakta atomis yang akan memverifikasi proposisi itu sendiri. Fakta atomis mempunyai peran membuat proposisi benar daripada memapankan proposisi sebagai benar.  Pendekatan pada kebenaran dalam ilmu alam adalah pendekatan terhadap sesuatu di luar pengenal, oleh karena itu memungkinkan dicapainya “keadaan yang sebenarnya” dari objek pengetahuan walaupun tetap memungkinkan adanya pengaruh dari pengenal. Objektivitas dalam ilmu-ilmu sosial sulit dicapai karena adanya hubungan timbal balik yang terus-menerus antara subjek pengenal dan objek yang dikenal.

Kebenaran mempunyai banyak aspek, dan bahkan bersama ilmu dapat didekati secara terpilah dan hasil yang bervariasi atas objek yang sama. Popper memandang teori adalah sebagai hasil imajinasi manusia, validitasnya tergantung pada persetujuan antara konsekuensi dan fakta observasi.

1)    Evolusionisme
Suatu teori adalah tidak pernah benar dalam pengertian sempurna, paling bagus hanya berusaha menuju ke kebenaran. Thomas Kuhn berpandangan bahwa kemajuan ilmu tidaklah bergerak menuju ke kebenaran, jadi hanya berkembang. Sejalan dengan itu Pranarka melihat ilmu selalu dalam proses evolusi apakah berkembang ke arah kemajuan ataukah kemunduran, karena ilmu merupakan hasil aktivitas manusia yang selalu berkembang dari jaman ke jaman. Kebenaran ilmu walau diperoleh secara konsensus namun memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Sifat keuniversalan ilmu masih dapat dibatasi oleh penemuan-penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya menggugurkan penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali, sehingga memerlukan penelitian lebih mendalam. Jika hasilnya berbeda dari kebenaran lama maka harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-duanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas kebenaran masing-masing. Ilmu sekarang lebih mendekati kebenaran daripada ilmu pada jaman Pertengahan, dan ilmu pada abad dua puluh akan lebih mendekati kebenaran daripada abad sebelumnya. Hal tersebut tidak seperti ilmu pada jaman Babilonia yang dulunya benar namun sekarang salah, ilmu kita (kealaman) benar untuk sekarang dan akan salah untuk seribu tahun kemudian, tapi kita mendekati kebenaran lebih dekat.

2)    Konstruktivism
Konstruktivisme menjadikan konsensus sebagai landasan bagi teori kebenaran. Menurut teori ini, konsensus di antara anggota komunitas merupakan jalan bagus untuk mencapai kebenaran, dengan kata lain konsensus hanya merupakan kriteria validitas. Konstruktivisme terjebak dalam pandangan bahwa Alam tidaklah ada, yang ada hanya merupakan kontruksi dari anggota-anggota yang melakukan konsensus. Latous dan Wolgar menyatakan bahwa aktivitas ilmiah tidak hanya “tentang alam”, tetapi adalah usaha keras untuk mengkonstruksi realitas.

3)    Relativisme
Relativisme berpandangan bahwa bobot suatu teori harus dinilai relative dilihat dari penilaian individual atau grup yang memandangnya. Feyerabend memandang ilmu sebagai sarana suatu masyarakat mempertahankan diri, oleh karena itu kriteria kebenaran ilmu antar masyarakat juga bervariasi karena setiap masyarakat punya kebebasan untuk menentukan kriteria kebenarannya. Rortry mengatakan bahwa pencarian kebenaran adalah nothing tapi hanya perubahan ke kebaikan. Pragmatisme tergolong dalam pandangan relativis karena menganggap kebenaran merupakan proses penyesuaian manusia terhadap lingkungan. Karena setiap kebenaran bersifat praktis maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman berjalan terus dan segala sesuatu yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.

4)    Objektivisme
Apa yang diartikan sebagai “benar” ketika kita mengklain suatu pernyataan adalah sebagaimana yang Aristoteles artikan yaitu sesuai dengan keadaan pernyataan benar adalah “representasi atas objek” cermin atas itu. Tarski menekankan teori kebenaran korespondensi sebagai landasan objektivitas ilmu, karena suatu teori dituntut untuk memenuhi kesesuaian antara pernyataan dengan fakta. Teori kebenaran yang diselamatkan Tarski merupakan suatu teori yang memandang kebenaran bersifat “objektif”, karena pernyataan yang benar melebihi dari sekedar pengalaman yang bersifat subjektif. Ia juga “absolut” karena tidak relatif terhadap suatu anggapan atau kepercayaan. Namun Tarski melihat suatu pernyataan menjadi tidak memadai tatkala pernyataan itu adalah teori ilmiah yang merupakan abstraksi dan penyederhanaan atas alam. Misal : hukum tentang gerak dari Newton. Objektivisme menyingkirkan individu-individu dan penilaian para individu yang memegang peranan penting di dalam analisa-analisa tentang pengetahuan, objektivisme lebih bertumpu pada objek daripada subjek dalam mengembangkan ilmu. Bila teori ilmiah benar dalam arti sesungguhnya, yaitu bersesuaian secara pasti dengan keadaan, maka tidak ada tempat bagi interpretasi ketidaksetujuan, beberapa ilmuwan percaya bahwa teori-teori mewakili gunung kebenaran. Roger berpendapat bahwa teori-teori selalu merupakan imajinasi dari konstruksi mental, dikuatkan oleh persetujuan antara fakta observasi dan peramalan atas implikasi. Kelemahan kebenaran merupakan kesesuaian dengan keadaan adalah mereka merupakan penyederhanaan dan pengabstraksian dari hubungan antara fakta-faktadan kejadian-kejadian yang digabungkan dengan unsur persetujuan.

2.4 Objektivitas Dalam Ilmu Sosial dan Contohnya Dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam pembahasan kali ini, mengacu kepada beberapa pemikiran atau tulisan beberapa ilmuan yang mengangkat tema tentang objektivitas dalam ilmu sosial.

Pertama mengacu pada tulisan atau komentar dari Daniel, yang berjudul Objektivitas, Kebenaran, dan Metode Seorang Filsuf Perspektif Pada Ilmu Sosial. Dalam tulisannya tersebut lebih melihat pada pandangan-pandangan ilmuan terdahulu yang di jadikan landasan untuk lebih berkembang pada saat ini. Perpektif seperti empiris dan kausal, anti-empiris dan hermeneutik yang menjadi pandangan tetang logika dan metode ilmu-ilmu manusia. Dalam ilmu sosial ada dua sumbu ketidak sepakatan dalam filsafat ilmu sosial. Yang pertama menyangkut epistemologi ilmu-ilmu sosial, dalam membangun pernyataan untuk membenarkan dan untuk kemungkinannya. Yang sering di pertanyakan adalah tentang bagaimana metode ilmiah yang ada dalam menjelaskan metode untuk ilmu-ilmu manusia atas dasar yang di dapat sampai pada hipotesis tentang fenomena sosial.
Dalam tulisan ini juga membahas bahwa untuk menjadi seorang ilmuan harus mempunyai komitmen untuk mencapai keyakinan yang benar tentang domain fenomena, atas dasar metode yang tepat dari evaluasi empiris dan konfirmasi. Karena itu juga  konsep objektivitas, kebenaran, dan otoritas standar empiris telah datang di bawah tantangan serius oleh beberapa kritikus ilmu-ilmu sosial. Kritikus marxis sendiri kadang berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial terjebak dalam satu pandangan dunia borjuis yang menyebabkan objektivitas mustahil. Dan pada perkembangannya banyak para ilmuan yang meremehkan ide-ide kebenaran dan objektivitas dalam ilmu-ilmu sosial itu sendiri bahkan lebih suka beberapa wacana tentang pengertian licin berbagai wacana dan pengetahuan/kekuasaan. Dalam permasalahan ilmu sosial sendiri di dalamnya kurang memberikan pengetahuan yang ilmiah, dan tidak ada yang bersifat murni fakta, dari akibat hanya adanya penulisan dalam suatu konseptual, yang bukan merupakan penelitian murni yang hanya ditulis dalam kosakata sarat teori. Yang kemudian membuat temuan tersebut menjadi seuatu yang bias. Ilmu sosial hanya dianggap berkontribusi dengan konsepsi ilmu sosial, yang jika diterima menyebabkan rusaknya objektivitas. Tetapi, dalam menjalankan suatu metode ilmiah, memang tidak adapanduan yang tepat dan setiap disiplin ilmu memanglah mempunyai metode ilmiah tersendiri dalam menyelidiki fenomena yang menarik.
Dalam pembahasan ini, penulis lebih melihat kepada bidang ilmu antropologi, yang ia rasa harus dapat di dukung oleh metode empiris yang tepat, dan kebutuhan antropologi saat ini adalah disiplin ilmiah yang ada standar yang sesuai dengan penalaran empiris sebagai kontrol dalam pernyataan ilmiah. Dalam tulisan ini juga penulis berpesan untuk dapat menerapkan dan menjabarkan ilmu tidak hanya untuk kepentingan persaingan, tetapi lebih kepada seperangkat pernyataan positif tentang kehidupan di dunia yang harus di benarkan atas dasar interogasi ketat dari bukti empiris.
Kedua yang di tulis oleh Judith Buber Agassi, yang berjudul “Objektivitas dalam ilmu sosial”  dalam RJ Seeger dan RS Cohen, Editor  Yayasan filosofis dari ilmu, Study di Boston Filsafat Ilmu, vol.11,1974, hal 305-16, lebih melihat topik ini dari keadaan kekecewaannya terhadap keadaan yang ada pada saat itu tentang tren yang ada di Amerika. Ia melihat ini dari segi ilmu sosial yang ia khususkan dalam ilmu sosiologi. Keprihatinan terhadap suatu keadaan yang dapat menyerang objektivitas, yang di lakukan beberapa ilmuan, yang terjadi akibat dari kesibukan, dan sosial hati nurani yang tidak dapat di jaga. Dalam ilmu sosial, permasalahan objektivitas lebih kepada para ilmuan yang melakukan penemuan atas dasar kepentingan dan emosinya terhadap ketidakpuasaan keadaan yang ia jalani.

Dalam sosial ilmu sendiri mempunyai hambatan kejujuran dalam penerapannya, yang dapat mengurangi daya keobjektivannya. Dalam ilmu alam sekalipun, menurutnya keobjektivannya terlalu dipaksakan karena suatu kebutuhan, yang kemudian memunculkan penemuan yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam segi fakta yang terkandung sendiri seorang ilmuan juga merupakan seorang manusia yang tidak terlepas dari keterlibatannya dan kepercayaannya terhadap suatu budaya, dan kelompok tertentu, yang menyebabkan kurangnya sifat netral dalam diri ilmuan dalam melakukan penemuan. Sehingga seringkali di dapati suatu penemuan terasa hanya memihak kepada sekelompok orang, yang memojokkan dan mendiskriminasi dalam hal ras, agam, dll di dalamnya. Namun dalam hal ini yang sangat serius bahwa setiap peneliti individu harus lah berupaya untuk menjadi sadar, selagi dia bisa untuk mengambil sesuatu hal yang relevan yang berkaitan dengan studinya. Seorang peneliti sering sekali menjadi seseorang yang berubah-ubah pemikirannya, sehingga dalam mengungkap penemuan sering kali terjadi peneliti tidak psikoanalitis pengetahuan diri, tapi suatu kejujuran dan kesiapan untuk menjadi sadar apa pun pengetahuan tentang dirinya sendiri yang mudah di akses. Setiap ilmuan atau penyidik juga harus bisa terbuka terhadap modifikasi/ perubahan yang ada, terutama sebagai hasil dari suatu penelitian, selain itu juga tidak menyimpulkan / menilai suatu penyidikan/penelitian menurut penilaian diri sendiri.
Dalam tradisi Amerika, dalam upaya untuk mengatasi masalah nilai, Marx dan Weber pada awal perkembangan sosiologi Amerika memiliki sedikit pengaruh atau mungkin tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Pada perkembangannya sosiolog Amerika sangat prihatin terhadap perkembangan sosiologi ilmiah menjadi bias pribadi dan memihak. Secara khusus mereka menghindari semua nilai peringkat dan menjunjung tinggi prinsip kesetaraan semua sistem sosial, yang mengarah ke relativisme moral. Sikap ini menyebabkan pengabaian dalam kondisi sosial dan ekonomi yang sering menyebabkan terdegradasi pola hidup yang aneh dalam kelompok yang diteliti. Dari sudut pandang ekstrimis ke dalam ilmu pengetahuan sosial yang baru adalah bahwa wacana rasional, kemungkinan untuk debat masalah sosial, yang sebelumnya di asumsikan ada juga dari sebagian besar kaum marxi, sekarang sepenuhnya di tolak oleh banyak radikal.
Contoh topik ini dalam kehidupan keseharian masyarakat yaitu ketika masyarakat di bingungkan dengan banyaknya bidang ilmu di dalam kehidupan perguruan tinggi saat ini, yang kemudian lebih di bingungkan lagi dengan banyaknya pilihan jurusan yang ada dalam satu universitas. Ini membuat para orang tua dan bahkan anak-anaknya yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri terkadang di sulitkan dengan pilihan yang ada, padahal banyak juga jurusan yang dalam disiplin ilmunya tidak jauh berbeda satu sama lain, bahkan mungkin dapat di satukan dalam satu disiplin ilmu saja. Banyaknya jurusan baru atau disiplin ilmu baru dalam dunia pendidikan, merupakan salah satu contoh dari penelitian ilmiah dan penciptaan disiplin ilmu yang terlalu memaksakan kehendak dari ilmuan yang mungkin mempunyai kepentingan atas penelitian ilmiahnya, sehingga suatu objektivitas dalam disiplin ilmu baru saat ini masih banyak yang mempermasalahkannya dan mempertanyakannya. 

Kriteria sebagai ilmuwan sendiri haruslah mempunyai komitmen yang kuat untuk datang di keyakinan yang teruji kebenarannya dalam domain fenomena dalam pertanyaan, atas dasar metode yang tepat dari evaluasi empiris dan konfirmatif. Dalam tanggapan kritikus Marxis sendiri kadang-kadang berpendapat bahwa ilmu-ilmu sosial terjebak dalam suatu pandangan dunia borjuis yang membuat objektivitas mustahil dan dalam era modernisasi sendiri para penulis tampaknya meremehkan ide-ide kebenaran dan objektivitas dalam ilmu- ilmu sosial sama sekali, lebih suka pengertian licin beberapa wacana dan pengetahuan/kekuasaan.

Dalam menentukan kajian ilmiah itu sendiri memang tidak memiliki tolak ukur/ panduan yang baku yang harus diikuti, mungkin setiap ilmu memiliki metode canggih tersendiri untuk melakukan penyelidikan di mana ilmuwan diaktifkan untuk menyelidiki fenomena yang menarik di dalamnya. Sehingga dalam setiap ilmu dan disiplin ilmu yang ada memanglah harus mempuyai karakteristik atau ciri khas dari ilmu itu sendiri, agar dapat menjadi suatu keistimewaan dan pembeda bagi disiplin ilmu lainnya.

Terlepas dari semua perdebatan tersebut, memanglah perlu bagi ilmuan untuk menyiapkan suatu ilmu atau disiplin ilmu bukan hanya sebagai alat persaingan, tetapi para ilmuwan harus sadar suatu ilmu harus menjadi seperangkat pernyataan positif tentang dunia, yang harus dibenarkan atas dasar interogasi ketat dari bukti empiris.

2.5 Perbedaan Subjektivitas dengan Objektivitas

Konsep Tentang Objektivitas Ilmu Sosial Misalnya Ilmu Bahasa

Pertentangan objektivitas dan subjektivitas bersumber dari pendirian aliran postivisme yang melihat bahwa objektivitas sebagai satu-satunya standar menetapkan kebenaran dalam penyelidikan yang  ilmiah. Kebenaran objektif mengandaikan ilmu itu bebas dari nilai tegasnya, objektivitas mengakui tidak ada hubungan antara subjek dengan objek, maksudnya,  pengetahuan yang diperoleh dari objek tanpa melibatkan pemikiran subjek dalam proses memperoleh suatu pengetahuan sehingga tidak ada moral dalam ilmu.

Objektivitas dan Subjektivitas berkaitan dengan apa-apa yang ada di dalam dan diluar pikiran manusia. Dalam pemahaman ini, objektivitas berarti hal-hal yang bisa diukur yang ada di luar pikiran atau persepsi manusia. Sedangkan subjektivitas adalah fakta yang ada di dalam pikiran manusia sebagai persepsi, keyakinan dan perasaan. Pandangan objektif akan cenderung bebas nilai sedangkan subjektif sebaliknya. Keduanya memiliki kelebihan-kekurangannya. Dalam tradisi ilmu pengetahuan objektivitas akan menghasilkan pengetahuan kuantitatif sedangkan subjektivitas akan menghasilkan pengetahuan kualitatif. 

Misalnya kita mengukur meja dengan tinggi 2 meter, ini adalah fakta objektif. Persepsi seseorang tentang meja yang sedang kita ukur akan sangat beragam, misalnya menganggap meja jelek, sedang, atau bagus. Nilai yang dihasilkan oleh penelitian secara objektif menghasilkan kebenaran tunggal, untuk kemudian akan runtuh jika ada hasil lain yang menunjukkan perbedaan. sementara penelitian secara subjektif cenderung majemuk, amat bergantung pada konteks.

Objektivisme berdasarkan pada kejadian yang sesungguhnya. Sedangkan subjektivisme berdasarkan pada pendapat orang tersebut bahwa sesuatu ada karena dianggap hal tersebut memang ada.

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Objektivitas adalah sebuah sikap yang menggambarkan adanya kejujuran, bebas dari pengaruh pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dan lain-lain khususnya dalam upaya untuk mengambil sebuah keputusan atau tindakan.

Kebenaran ilmiah pada akhirnya tidak bisa dibuat dalam suatu standard yang berlaku bagi semua jenis ilmu secara paksa, hal ini terjadi karena adanya banyak jenis dalam pengetahuan. Walaupun ilmu bervariasi disebabkan karena beragamnya objek dan metode, namun ia secara umum bertujuan mencapai kebenaran yang objektif, dihasilkan melalui konsensus. Kebenaran ilmu yang demikian tetap mempunyai sifat probabel, tentatif, evolutif, bahkan relatif, dan tidak pernah mencapai  , hal ini terjadi karena ilmu diusahakan oleh manusia dan komunitas sosialnya yang selalu berkembang kemampuan akal budinya.

DAFTAR PUSTAKA


Abbas, H.M., “Kebenaran Ilmiah” dalam: Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu

Pengetahuan, Yogyakarta: Intan Pariwara, 1997.

Agus, Bustanuddin, Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial; Studi Banding antara Pandangan Ilmiah dan

Ajaran Islam, Jakarta: GIP, 1999.

Sumarsono.2016. Filsafat Bahasa. Jakarta: PT Grmedia Widiasarana Indonesia.

Karimova, Maria, "Q Methodological Study of Subjectivity and Objectivity" (2014). Senior Honors

Teses. 377. htp://commons.emich.edu/honors/377

https://abuilmia.wordpress.com diakses pada tanggal 19 April 2018

0 Response to "Konsep Tentang Objektivitas Ilmu Sosial Misalnya Ilmu Bahasa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel