Makalah Literasi Lintas Kurikulum - Bahasa dan Sastra Indonesia

Makalah Literasi Lintas Kurikulum - Bahasa dan Sastra Indonesia

 

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena kuasa-Nyalah makalah ini akhirnya dapat kami selesaikan. Adapun makalah ini kami susun, untuk dapat memenuhi tugas mata kuliah Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia. Kami berharap dengan disusunnya makalah ini dapat membantu memahami literasi lintas kurikulum. 

Kurikulum merupakan salah satu alat yang dijadikan sebagai pedoman untuk mencapai tujuan pendidikan dan sebagai pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.Kurikulum dan pembelajaran merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. Kurikulum dapat memberikan arah dan tujuan pendidikan, isi yang harus dipelajari, sedangkan pembelajaran adalah proses yang terjadi dalam interaksi belajar dan mengajar antaraguru dan siswa. Maka sebagai suatu rencana atau program, kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran. Dengan adanya literasi, pembelajaran dalam kurikulum akan efektif.

Kami menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah selanjutnya lebih baik. Akhirnya kami mengucapkan terimakasih kepada Dr. Mutsyuhito Solin, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Literasi Bahasa dan Sastra Indonesia, serta pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.   


                                                                                                                    Medan,        Oktober 2017
   
                                                                                                                           

                                                                                                                              Penulis


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi  memunculkan tuntutan baru dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan sehingga mendorong para pengambil kebijakan dalam  lembaga pendidikan berperan aktif  dalam melakukan pembaharuan – pembaharuan di bidang pendidikan baik secara struktural  maupun infrastruktur. Pembaharuan sistem pendidikan dilakukan untuk memperbaharui visi, misi, dan strategi pembangunan pendidikan. Sehingga diperlukan partisipasi aktif dari para pengemban pendidikan dengan menciptakan proses belajar mengajar yang benar melalui berbagai pendekatan yang aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan . Hal ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang di dalam fungsi pendidikan nasional.

Literasi Lintas Kurikulum dapat dimaknai sebagai bentuk kompetensi yang perlu dibangun agar peserta didik kita melek berbahasa, melek berbahasa artinya tahu, paham, mengerti, terampil dalam materi, dan nilai-nilai yang dibangun melalui penerapan ilmu. Untuk itu perlu adanya upaya nyata dalam proses pembelajaran agar sikap, prilaku, dan segala tindakan belajar peserta didik dapat berkembang ke arah melek berbahasa. Kompetensi dasar dalam istiah literasi meliputi membaca, menulis, dan berbicara. Melalui ketiga bentuk kompetensi itu, siswa diharapkan dapat memahami melalui membaca, menuangkan hasil pemahamannya melalui tulisan yang secara substansi memiliki kesamaan idea dari yang dibacanya, dan mengomunikasikan hasil pemahamannya yang sudah dituangkan dalam tulisan secara lisan dengan berbicara.

B. Rumusan Masalah
1.  Bagaimana hubungan literasi dan subjek pembelajaran?
2. Bagaimana penerapan literasi lintas kurikulum?
3. Bagaimana penerapan literasi lintas kurikulum 2013?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui hubungan literasi dan subjek pembelajaran
2. Untuk mengetahui penerapan literasi lintas kurikulum
3. Untuk mengetahui penerapan literasi lintas kurikulum 2013

BAB II

PEMBAHASAN


1. Literasi dan Hubungannya dengan Subjek Pelajaran
Pembelajaran Bahasa akan menyenangkan jika menekankan pada kebermaknaan dalam proses belajar mengajar di kelas dengan mengaitkan manfaat materi belajar  dalam kehidupan peserta didik pada khususnya dan manusia pada umumnya. Dalam hal ini, akan dirasakan oleh peserta didik bahwa apa yang dipelajari oleh peserta didik di kelas benar-benar bermakna atau bermanfaat kelak di kemudian hari.  Pembelajaran bahasa akan menarik dan bervariasi jika materi dapat diintegrasikan dengan materi pelajaran lain atau nilai-nilai yang ada dalam kehidupan nyata. 

Literasi secara sederhana diartikan sebagai keberaksaraan. Dalam perkembangannya, literasi bukan hanya diidentikkan dengan kemampuan baca tulis, tetapi juga pada aspek yang lain seperti kemampuan memilih dan memilah informasi, berkomunikasi, dan bersosialisasi dalam masyarakat. Literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis. Literasi juga mencakup bagaimana seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. 

Menurut Lankshear and Snyder dalam buku Classroom Interactions in Literacy (2003:14) memaparkan, Literacy  studies investigates reading and writing in diverse areas including everyday life and the workplace. It covers a range of cultures and historical periods, as well as multilingual contexts, and is concerned with the use of new technologies, including the Internet. Further, ‘literacy’ studies recognizes that ‘literacy’ is not fixed but is always changing: successive advances in technology extend the boundaries of what was previously possible. And each technological advance has seen a corresponding change in how literacy is practised and its social role understood. Literasi merupakan studi menyelidiki kemampuan membaca dan menulis di berbagai bidang termasuk kehidupan sehari-hari dan tempat kerja. Ini mencakup berbagai budaya dan periode sejarah serta sebagai konteks multibahasa, dan terkait dengan penggunaan teknologi baru, termasuk internet. Selanjutnya, studi 'keaksaraan' mengakui bahwa 'keaksaraan' bersifat tidak tetap, tetapi selalu berubah: Kemajuan teknologi yang terus berlanjut tanpa batas  dari sebelumnya. Masing-masing kemajuan teknologi telah melihat perubahan yang sesuai literasi bagaimana mempraktekkan dan menggunaannya pada peran sosial  agar dapat dipahami.

Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menjadikan Gerakan Literasi sebagai salah satu bentuk penumbuhan budi pekerti di sekolah. Salah satu bentuknya adalah pembiasaan membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca di kalangan siswa. Budaya literasi juga ditumbuhkan melalui integrasi dalam pembelajaran, utamanya dalam penerapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan yang dikenal dengan 5M. Skenario pembelajaran juga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan penilaian hasil belajar pada level kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS) siswa dimana arahnya pada menemukan dan menyelesaikan masalah. Hal tersebut tentunya harus tergambar pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun oleh guru.  Pembelajaran Bahasa dengan melalui lintas kurikulum memiliki kelebihan antara lain :
  1. Waktu dapat dimanfaatkan lebih efisien
  2. Pembelajaran tidak membosankan karena lebih bervariasi
  3. Memperkuat pemahaman peserta didik pada pelajaran lain.

1.1. Contoh-Contoh Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Lintas Kurikulum

a. Cerita rakyat Sangkuriang
Pada pembelajaran ini peserta didik diajak untuk menemukan nilai-nilai yang dapat dikaitkan dengan kehidupan nyata. Untuk itu peserta didik berdiskusi untuk menemukan unsur-unsur intrinsiknya dan kemudian mampu menemukan nilai-nilai yang sesuai dengan kehidupan nyata. Peserta didik dibiarkan untuk mengembara dengan pikirannya membayangkan antara cerita yang fiktif dan mengaitkan dengan kebenaran yang ada secara logika. Cerita ini bisa dikaitkan pelajaran geografi, di mana kebenaran cerita ini dilihat dari sudut pandang ilmu alam dengan hakikat sebuah dongeng itu sendiri . sehingga peserta didik bisa memahami kedudukan dongeng yang berjudul Sangkuriang itu sebagai sebuah legenda dan sejarah Gunung Tangkuban Perahu yang sebenarnya

b.  Materi Etika Bertelepon
Materi pembelajaran Etika Bertelepon di Kelas VII dapat dikaitkan dengan sikap dan perilaku sopan santun pergaulan dan penggunaan fasilitas umum. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasikan kesalahan–kesalahan yang biasa ditemui dan kesalahan tersebut dikaitkan dengan norma sopan santun berlaku, kemudian peserta didik menilai dan mencari solusi yang tepat untuk mengatasi kesalahan yang terjadi melalui diskusi kelompok. Materi ini dapat dikembangkan lagi dengan mengkaitkan pelajaran IPS (ekonomi). Contohnya lamanya penggunaan telepon dikaitkan dengan masalah biaya. Semakin lama telepon digunakan maka semakin tinggi biaya yang akan kita keluarkan. Sehingga semestinya penggunaan telepon itu seperlunya saja dalam hal ini dapatlah dikaitkan dengan prinsip ekonomi pada pelajaran IPS ekonomi.  Selain itu, bisa saja dikembangkan lagi dengan mengaitkan pelajaran TIK di SMP. Contohnya : berbagai bentuk alat komunikasi dalam perkembangannya yang sangat pesat dewasa ini, menuntut adanya sikap positif sehingga kita harus mampu mengikuti perkembangan ITC dengan lebih bijak. Alat komunikasi yang ada semestinya bisa dijadikan ajang untuk memotivasi diri peserta didik untuk belajar dan bersikap yang lebih menguntungkan dengan tidak meninggalkan nilai-nilai moral yang luhur. Untuk itu, peserta didik diajak untuk merumuskan tata cara bertelepon yang baik/sopan baik dari segi bahasa, cara berbicara,cara penggunaan pesawat telepon/HP, maupun hal- hal lain yang perlu ditambahkan dalam etika bertelepon dengan cara berdiskusi.

Setelah peserta didik mampu merumuskan hasil diskusi, maka peserta didik melakukan latihan/ praktik bertelepon dengan teman sebangkunya kemudian dinilai oleh teman di belakangnya. Setelah itu, peserta didik di bangku bekangnya memberikan kritik dan saran secara bergantian, kemudian baru penilaian dilakukan oleh teman sejawat dan guru secara bersamaan dengan berpedoman pada rubrik penilaian yang telah dipersiapkan.

c.  Menyimak Wawancara
Pembelajaran menyimak dimulai, peserta didik diajak bagaimana melatih konsentrasi terlebih dahulu. Karena menyimak tidak akan dilakukan jika konsentrasi tidak bisa dilakukan, Untuk itu, peserta didik dilatih membentuk konsentrasi terlebih dahulu dengan olah raga yaitu senam otak, Yaitu dengan menggerakkan jari-jari tangan dan gerakan tangan yang sederhana. Setelah itu, peserta didik dibawa pada tahap menyimak wawancara yang telah dipersiapkan. Berikan kepada peserta didik manfaat dari menyimak informasi dan bagaimana kaitannya dengan arus globalisasi yang begitu pesat melaju terus serta bagaimana dengan keterbatasan kemampuan kita menyikapinya. Maka masuklah pendidikan moral dan budaya sebagai variasinya. Buatlah komitmen dalam hal ini dengan peserta didik.

d.  Menentukan  latar dalam karya sastra dengan mengaitkan latar yang ada   dengan kehidupan nyata 
Karya sastra dalam perkembangannya di Indonesia terbagi dalam dua bentuk yaitu berupa prosa dan puisi . Karya sastra (prosa dan puisi ) berdasarkan kurun waktunya terbagi atas karya sastra lama dan karya sastra baru. Kualitas sebuah karya dapat dilihat dari unsur-unsur yang membangunnya, yaitu unsur intrinsik dan unsur  ekstrinsiknya. Unsur intrinsik karya sastra yang berupa tema,  amanat,  plot, penokohan, perwatakan,  setting, bahasa, point of view. Dan unsur ekstrinsik yang berupa situasi dan kondisi masyarakat pada waktu karya itu lahir, serta latar belakang kehidupan pengarangnya.  Keindahan dan daya tarik sebuah karya sastra tergantung dari seberapa menariknya unsur intrinsik dan unsur Ekstrinsik itu dibangun.

Karya sastra  lahir sebagai cerminan dari situasi masyarakat pada waktu karya itu dibuat / lahir. Artinya situasi dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat pada waktu itu  sangat berpengaruh terhadap corak hasil karyanya. Untuk itu peserta didik diberikan pembelajaran adakah kaitannya dengan menentukan latar dari sebuah cerita prosa. Kemudian peserta didik diminta menemukan latar / setting (yang berupa tempat, suasana, waktu ) dari karya prosa tersebut. Apa yang menjadi ciri khas karya tersebut ? Dan apakah ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Misalnya: Novel ” Laskar Pelangi” atau “ Sang Pemimpi “  Karya Andrea Hirata .Apakah ada kaitannya antara latar yang ada dalam kedua novel tersebut itu dengan kehidupan sosial budaya  masyarakat Belitung pada waktu itu ? Untuk itu, peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya bagaimana kehidupan masyarakat belitung dengan mencari literatur letak geografis dan sosial budaya masyarakat Belitung. Kemudian menemukan keterkaitan latar dalam novel dengan kehidupan yang sebenarnya. Tiap kelompok menyimpulkan keterkaitan latar novel dengan latar yang sebenarnya terjadi .Peserta didik menyampaikan hasil kerja kelompoknya secara lisan di depan kelas, dan peserta didik kelompok lain memberikan tanggapan.

Pembelajaran ini dapat dikaitkaan dengan ilmu psikologi contohnya pada novel yang berjudul “Pada Sebuah Kapal” dan “ Pertemuan Dua Hati” karya NH. Dini. “ Di  Bawah Lindungan Ka’bah” karya HAMKA dapat pula dikaitkan dengan kehidupan sosial budaya pengarangnya, demikian juga Roman “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli. Dari amanat dalam cerita saja bisa kita kembangkan materi pembelajaran lebih luas dengan melintas pada kurikulum Pendidikan Agama, PLKJ, IPS, dan lebih-lebih pada pendidikan karakter bangsa sangat cocok sekali. Demikian halnya dari sifat / watak tokohnya guru bisa mengaitkan pada masalah pembentukan karakter dan jati diri bangsa. Sehingga harapan ke depan  generasi kita akan menjadi yang berkualitas dan bermartabat karena pembelajaran yang peserta didik alami dalam proses pendidikan di sekolah di tambah pendidikan di keluarga akan mampu membentuk pribadi yang bermoral. Walaupun butuh waktu yang tidak sedikit untuk terbentuknya pribadi yang berkarakter, yakinlah bahwa 25 tahun lagi kita akan merasakan terwujudnya  “ Indonesia Emas “ jika para guru / para pendidik mau mulai dari sekarang, minimal dimulai dari diri kita sendiri.

e.  Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar
Pembelajaran Bahasa yang baik dan benar hendaklah selalu ditekankan kepada peserta didik. Penggunaan bahasa yang baik artinya penggunaan bahasa dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada, misalnya: ketika seseorang di sekolah seharusnya menggunakan bahasa yang resmi karena sekolah adalah lembaga resmi, sebaliknya jika berada di pasar maka gunakan bahasa pasar. Demikian juga ketika di dalam keluarga.
Penggunaan bahasa yang benar adalah menggunakan bahasa dengan benar sesuai dengan aturan di dalam EYD. Untuk itu peserta didik diberikan tema-tema yang menarik ( contohnya: bahasa facebook, bahasa Twiter, bahasa SMS, bahasa Prokem, bahasa daerah, bahasa keluarga, dan sebagainya ). Kemudian peserta didik diminta menemukan contoh-contoh kesalahan berbahasa sekaligus membetulkan kesalahan tersebut ke dalam  penggunaan bahasa  yang tepat .

2. Penerapan Literasi Lintas Kurikulum

Penjelasan Buku Classroom Interaction in Literacy (2003: 60) memaparkan The need to develop more effective ways of supporting student teachers learning has been both refined and intensified by recent curriculum developments. The implementation of the National Literacy Strategy (NLS) (DfEE 1998a) has provided a welcome emphasis on subject knowledge and a fresh impetus for re-examining the content of the literacy curriculum for both children and student teachers. However, it could also be argued that the highly detailed and prescriptive nature of these curricula has also resulted in an even more urgent need to consider the role of the curriculum in relation to learning. Consideration needs to be given to ways of developing the understandings needed to transform what is prescribed by the curriculum into a transferable ‘generality of knowing’ (Greeno 1997) that can be applied and adapted to contexts both inside and outside the classroom. Pengembangan kurikulum  membutuhkan keefektifan dan dukungan dari guru, agar dapat sempurna dan intensif untuk perkembangannya. Implementasi  dari strategi Literasi Nasional (NLS) (DfEE 1998a) telah menekankan pada pengetahuan subjek dan dorongan dalam keterkaitan berbahasa. Adanya  dorongan untuk memeriksa kembali isi kurikulum keaksaraan baik untuk anak-anak maupun guru siswa. Namun, bisa juga dikatakan bahwa kurikulum bersifat rinci dan preskriptif.  Peran kurikulum penting dalam kaitannya dengan pembelajaran. Pertimbangan perlu diberikan dalam mengembangkan pemahaman. Pertimbangan diperlukan dalam pemahaman dan pengembangan kurikulum, apa saja  yang perlu ditentukan agar dapat dimanfaatkan (pengetahuan secara umum (luas))', bisa diterapkan dan disesuaikan pada konteksnya baik di dalam maupun di luar kelas. (Greeno 1997)

Buku Dimensions of Literacy menjelaskan The ways in which literacy is defi ned and used as social practices by various communities (e.g., cultural, occupational, gender) are being documented. The nature of knowledge, its production, and its use as linked to literacy, ideology, and power are being uncovered. The educational impact of these explorations has been an increased sensitivity to the range of socially based experiences and meanings that students bring to the classroom. Additionally, educators have been challenged to ensure a more diverse representation of knowledges in the curriculum and more equitable access to these knowledges. Culturally responsive instruction and critical literacy are just two of the routes through which this sensitivity to diversity has been explored. Keaksaraan digunakan sebagai praktik sosial oleh berbagai komunitas (misalnya budaya, pekerjaan, gender) yang telah terdokumentasi. Kealamian pengetahuan, produksi dan penggunaannya terkait literasi, ideology dan kekuatan yang melingkupinya. Dampak pendidikan dari eksplorasi ini menjadi kepekaan yang meningkat terhadap berbagai pengalaman dan makna berbasis sosial. Selain itu, pendidik telah ditantang untuk memastikan representasi pengetahuan yang lebih beragam dalam kurikulum dan akses untuk pengetahuan. Intruksi budaya responsive dan kritik literasi hanya dua dari rute yang melaluinya yang sensitive untuk perbedaan penyelidikan.

Bangsa yang berperadaban adalah bangsa yang memiliki budaya berpikir kritis-kreatif yang dibarengi dengan budaya membaca dan menulis yang baik. Ungkapan tersebut mengisyaratkan akan adanya suatu hubungan yang sangat erat antara kemajuan peradaban suatu bangsa dengan budaya literasi masayarakat bangsa tersebut. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang membaca. Membaca mampu mengasah kepekaan rasa, meningkatkan nalar kritis, daya imajinasi, kreativitas, menumbuhkan nilai-nilai positif, dan tentu saja membangun karakter pembacanya.  Sebagai bagian dari aktivitas literasi, membaca tidak sekedar bertujuan untuk mengerti arti kata, kalimat, atau alur cerita sebuah kisah. Lebih dari itu, membaca yang sebenar-benarnya membaca merupakan sebuah kegiatan olah rasa, membangkitkan kesadaran diri , dan mengasah kepekaan terhadap segala hal. Seperti misalnya membaca karya sastra yang mengandung unsur perpaduan antara rasa, refleksi dan fakta kehidupan Pendidikan yang dibangun dengan budaya literasi yang kokoh, terbukti mampu melahirkan manusia-manusia hebat dengan tradisi literasi kuat yang membawa perubahan besar bagi bangsa kita.

Kokohnya budaya literasi suatu bangsa, menjadikan bangsa tersebut sebagai bangsa yang bijaksana dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Sebab mereka mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas. Tidak berpola pikir sempit dan dangkal. Sebuah masalah, tidak hanya dipandang dengan satu perspektif, namun dengan mutliperspektif, sehingga tidak mudah merasa jumawa dan menganggap adanya perbedaan dengan pihak lain di luar dirinya sebagai sebuah kesalahan.
Apabila kemudian memperhatikan konteks pendidikan kita saat ini, adanya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang merupakan salah satu program dari kurikulum 2013 sebagai kurikulum terbaru berbasis karakter, menjadi semacam langkah kecil membangun karakter bangsa melalui kegiatan pembudayaan literasi melalui lembaga pendidikan sekolah. Dengan istilah lain, Gerakan Literasi Sekolah adalah embrio pengembangan kurikulum pendidikan karakter bangsa berbasis literasi.

3. Penerapan Literasi Lintas Kurikulum 2013
Penerapan Kurikulum 2013 membutuhkan literasi pada proses membingkai materi-materi pelajaran untuk berinteraksi. Tujuannya untuk mencapai keterampilan dasar siswa dalam membaca, menulis, mendengarkan dan menyampaikan. Sebab dalam Kurikulum 2013, siswa dituntut memiliki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan baik. Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, antara lain ingin mengubah pola pendidikan dari orientasi terhadap hasil dan materi ke pendidikan sebagai proses, melalui pendekatan tematik intergratif dengan contextual teaching and learning (CTL). Oleh karena itu, pembelajaran harus sebanyak mungkin melibatkan peserta didik, agar mereka mampu bereksplorasi untuk membentuk kompetensi dengan menggali berbagai potensi, dan kebenaran secara ilmiah. Abdul Majid (2014: 180) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Menurut Permendikbud no. 81 A tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran dengan pendekatan ilmiah (Scientific Approach) terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

Langkah Pembelajaran
Kegiatan Belajar
Kompetensi yang Dikembangkan
Mengamati
Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat)
Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi
Menanya
Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik)
Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat
Mengumpulkan informasi/ eksperimen
melakukan eksperimen
- membaca sumber lain selain buku teks
- mengamati objek/ kejadian/ aktivitas
- wawancara dengan narasumber
Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
Mengasosiasikan/
mengolah informasi
mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.
 Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.
Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan.
Mengkomunikasikan
Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya
Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Peraturan Menteri Nomor 68 dan 81a Tahun 2013 mengamanahkan segenap warga sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum 2013. Jadi kreativitas guru dalam melaksanakan pembelajaran diharapkan menjadikan pendekatan saintifik sebagai pedoman dalam kegiatan belajar mengajarnya. Fakta umum dari implementasi Kurikulum 2013 dalam sebuah Modul Pelatihan Praktik yang Baik, Konsorsium USAID PRIORITAS (2014: 43) mendeskripsikan beberapa butir penting antara lain:

a) Kurikulum 2013 mengembangkan sisi penting bagi siswa, yaitu sisi religiusitas (KI-1), sisi sikap sosial (KI-2), sisi pengetahuan (KI-3), dan sisi keterampilan (KI-4) semua hal itu amat berperan dalam kehidupan siswa.

b) Bentuk implementasi sebenarnya telah diatur oleh Permen Nomor 81a Tahun 2013 oleh pemerintah. Pendekatan saintifik adalah jawabannya dan 5M adalah pedomannya. Dalam praktik pembelajaran KD pada KI-3 dan KI-4 yang terlihat, sedangkan KD pada KI-1 dan KI-2 terakomodasi di dalamnya. Yang perlu dipikirkan bagaimana bentuk kongkret aktivitas guru ketika menerapkan KD KI-1 dan KI-2 di kelas dan bagaimana mengaksesnya.

c) KI-1, 2, 3, dan 4 serta pendekatan saintifik pada praktiknya mengarah pada bentuk asesmen otentik dalam mengumpulkan data kemampuan siswa.

d) Literasi adalah hal yang terkait dengan keterampilan berbahasa. Literasi adalah katalisator atau pemercepat proses yang sekaligus pemberhasil proses belajar. Literasi yang berwujud keterampilan informasi ini dapat mengembangkan potensi siswa.

3.1. Alur Pembelajaran 5M
Pemahaman terhadap pendekatan saintifik bagi guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar adalah seberapa baik pengembangan kreativitas guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Renungan bagi guru dalam menjadikan 5M sebagai pedoman aktivitas belajar siswa di kelas adalah: Pertama, Aktivitas mengamati dilakukan dengan modal berpikir (bila perlu berpikir tingkat tinggi). Aktivitas ini cenderung dipengaruhi oleh persepsi dan latar belakang keilmuan seorang pengamat. Sebuah benda, dihadapan pengamat Bahasa Indonesia, akan menghasilkan hasil pengamatan yang berbeda dengan pengamat IPS. Aktivitas mengamati bersifat multi indrawi. Jadi, mengamati tidak cukup hanya dilakukan dengan mata, bahkan dapat dilanjutkan dengan memberi perlakuan pada sesuatu yang diamati. Menanya adalah aktivitas lanjut dari pengamatan. Keduanya dapat dikatakan berhubungan secara kausalitas/ sebab akibat. Menanya dalam hal ini diupayakan sebagai aktivitas siswa daripada guru. Aktivitas menanya sangat beragam, mulai dari pertanyaan faktual sampai eksploratif. Kualitas pengamatan akan berkait erat dengan kualitas pertanyaan. Pengamatan yang hebat dapat menghasilkan pertanyaan yang berkualitas. Hal ini amat bermanfaat untuk perkembangan tingkat berpikir siswa.

Kedua, Aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan mengomunikasikan informasi amat bergantung pada kreativitas guru terutama dalam beberapa hal, seperti memberi masalah, tugas yang bermutu, dan penyelidikan yang unggul. Dalam hal ini, sebaiknya dipertimbangkan dulu produk yang bagaimana yang akan dicapai.

Ketiga, dalam pembelajaran (mengaktualisasikan KD baik tunggal maupun majemuk), 5M adalah pendekatan yang harus terlaksana. Aspek keberurutan memang belum ada petunjuk, tapi bila dilihat dari prinsip keilmuan hal tersebut adalah prosedur. Ikhtiarnya dapat dilakukan dengan cara berikut. 2M yang pertama, Mengamati dan Menanya memiliki prinsip Mengamati dilakukan terlebih dahulu sebelum Menanya. Kedua hal ini cenderung dilaksanakan oleh siswa. Pendampingan sangat dibutuhkan demi keberhasilan tahap ini. 3M yang kedua, Mengumpulkan, Mengolah, dan Mengomunikasikan Informasi dapat dilaksanakan dengan terlebih dulu memberikan sesuatu (permasalahan, tugas kompleks/ proyek, dan penyelidikan). Aktivitas ini dipicu oleh guru dan dijalankan oleh siswa. Pendampingan yang dilakukan diharapkan mengarah pada produk yang dihasilkan. Lama waktu yang diperlukan tergantung pada taraf kesulitan KD yang akan dijalankan dan tingkat kemampuan siswa. Ada kalanya KD-KD yang dijalankan dapat terpenuhi dalam 2 jam pelajaran, tetapi ada kalanya KD-KD tersebut baru dapat terpenuhi dalam jam pelajaran lebih banyak. Perlu diperhatikan dengan benar, pada bagian ini kreativitas guru dalam mengorganisasi pembelajaran sangat diperlukan.

Keempat, KD adalah hal yang harus dimiliki siswa. Hal ini dapat ditunjukkan dengan produk, demonstrasi, dan orasi siswa baik berlisan maupun tertulis. 5M adalah pendekatan yang dipakai ketika KD tersebut diaktualisasikan ke dalam kelas. Berdasarkan hal tersebut KD dan 5M seperti umpamanya obat dan petunjuk bagaimana harus meminumnya.

Uraian keempat hal tersebut mencoba mendeskripsikan secara sederhana bagaiman tafsiran dari pendekatan saintifik sebagai simbol 5M. Mudah-mudahan penggambaran 5M yang tertuang dalam empat bagian itu dapat memberi segenap pemahaman yang memudahkan bagi pembaca khususnya guru yang nantinya dituntut akan berkreasi sebaik mungkin dalam mencapai implementasi Kurikulum 2013 secara maksimal, utamanya dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan mata pelajarannya.

3.2.  Pengembangan Literasi Siswa
Konsorsium USAID PRIORITAS (2014:201) menjelaskan bahwa Kemampuan Literasi adalah kemampuan seseorang dalam:
(a) Mendengarkan/ menyimak = menangkap makna dari apa yang diucapkan orang lain;
(b) Membaca pemahaman = menangkap makna dari apa yang ditulis orang lain;
(c) Menulis = mengungkapkan gagasan secara tertulis;
(d) Berbicara = mengungkapkan gagasan secara lisan.

Secara khusus pengertian kemampuan literasi tersebut dikatakan sebagai keterampilan informasi. Lebih lanjut lagi Konsorsium USAID PRIORITAS (2014: 147) menjelaskan bahwa keterampilan informasi tersebut meliputi: (a) Keterampilan yang terkait dengan upaya memperoleh atau mengakses informasi yaitu keterampilan membaca, keterampilan belajar, keterampilan mencari informasi, dan keterampilan dalam menggunakan alat-alat teknologi. (b) Keterampilan dalam mengolah informasi, baik dari satu sumber maupun berbagai sumber. (c) Keterampilan dalam mengorganisasi atau merangkai informasi. (d) Keterampilan menggunakan informasi (keterampilan intelektual dan keterampilan membuat keputusan).

Keterampilan informasi ini amat berkait dengan keterampilan sosial, yang meliputi keterampilan diri, keterampilan bekerja sama, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Siswa dalam kelas dipandang sebagai mahluk pribadi sekaligus sebagai mahluk sosial. Kelak pada saatnya mereka akan menjadi warga negara untuk menggantikan orang tua dan menjadi pemimpin. Oleh sebab itu, sejak awal guru sudah harus membekali siswa dan mendapatkan pengembangan atas keterampilan informasi untuk mendukung keterampilan sosialnya. Hal ini menjadi tujuan penting dari tujuan diberlakukannya Kurikulum 2013 yaitu menyiapkann manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga negara yang beriman, produktif, kreatif, inovatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan peradaban dunia.

3.3. Kontribusi Alur Pembelajaran 5M Terhadap Pengembangan Literasi Siswa dalam Bahasa Indonesia
Kemampuan membaca dalam belajar Bahasa Indonesia sangat penting terutama ketika menyelesaikan soal cerita, yaitu soal Bahasa Indonesia yang dikemas dalam bentuk teks. Hal utama yang penting dikuasai siswa dalam menyelesaikan soal cerita adalah memahami soal tersebut, baru kemudian menerjemahkan pemahaman.. Salah satu indikator siswa memahami soal cerita adalah mereka dapat menceritakan/menuliskan kembali isi soal tersebut dengan kata- kata mereka sendiri.

Membaca tabel, diagram, dan grafik adalah kemampuan lain dalam Bahasa Indonesia yang terkait dengan literasi. Indikator mampu membaca tabel, diagram, dan grafik adalah mampu menjelaskan secara lisan atau tulisan informasi yang terkandung dalam tabel/diagram/grafik tersebut. Oleh karena itu, pembiasaan siswa untuk menulis ulang soal cerita dengan kata- katanya sendiri dan mengungkapkan (secara lisan maupun tulisan) hasil bacaan siswa terhadap suatu tabel/ diagram/grafik sangat perlu dilakukan.
 

BAB III
PENUTUP 


A. Kesimpulan
1. Literasi ditumbuhkan melalui integrasi dalam pembelajaran, utamanya dalam penerapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar, dan mengomunikasikan yang dikenal dengan 5M. Skenario pembelajaran juga diharapkan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis (critical thinking) dan penilaian hasil belajar pada level kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill/HOTS) siswa dimana arahnya pada menemukan dan menyelesaikan masalah.

2. Implementasi  dari strategi Literasi Nasional (NLS) (DfEE 1998a) telah menekankan pada pengetahuan subjek dan dorongan dalam keterkaitan berbahasa. Adanya  dorongan untuk memeriksa kembali isi kurikulum keaksaraan baik untuk anak-anak maupun guru siswa. Namun, bisa juga dikatakan bahwa kurikulum bersifat rinci dan preskriptif.  Peran kurikulum penting dalam kaitannya dengan pembelajaran. Pertimbangan perlu diberikan dalam mengembangkan pemahaman. Pertimbangan diperlukan dalam pemahaman dan pengembangan kurikulum, apa saja  yang perlu ditentukan agar dapat dimanfaatkan (pengetahuan secara umum (luas))', bisa diterapkan dan disesuaikan pada konteksnya baik di dalam maupun di luar kelas.

3. Penerapan Kurikulum 2013 membutuhkan literasi pada proses membingkai materi-materi pelajaran untuk berinteraksi. Tujuannya untuk mencapai keterampilan dasar siswa dalam membaca, menulis, mendengarkan dan menyampaikan. Sebab dalam Kurikulum 2013, siswa dituntut memiliki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi dengan baik.

B. Saran
Literasi merupakan sarana pendorong tercapainya tujuan dalam kurikulum. Bahasa Indonesia membutuhkan literasi sebagai keahlian/ keterampilan dalam melatih kemampuan menulis, membaca, berbicara dan mendengarkan. Oleh sebab itu, makalah ini sangat baik dibaca oleh semua kalangan. Khususnya mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia serta guru bidang studi bahasa Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA


Abdul Majid. (2014). Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Berner, dkk. 2003. Classroom Interactions in Literacy. London. Open University Press.

Buku Sumber untuk Dosen LPTK. (2014). Pembelajaran Literasi Kelas Awal di LPTK. Jakarta: Atas Kerjasama USAID dan Pemerintahan RI (Kemdikbud dan Kemenag)     serta Dukungan RTI, EDC, dan World Education.

H.E. Mulyasa. (2013). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Khairiah Nasution. (2013). Aplikasi Model Pembelajaran dalam Perspektif Pendekatan Saintifik. Tersedia dalam: http://sumut.kemenag.go.id/ diakses pada 1 Juli 2014.,     Pukul 4:46 WIB.

Konsorsium USAID PRIORITAS. (2014). Modul II Praktik yang Baik di Sekolah     Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs). Jakarta: Atas     Kerjasama USAID dan Pemerintahan RI (Kemdikbud dan Kemenag) serta     Dukungan RTI, EDC, dan World Education.

Kucher, Stephen. 2014. Dimensions Of Literacy. New York :Fourth Edition.

0 Response to "Makalah Literasi Lintas Kurikulum - Bahasa dan Sastra Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel