Pendekatan Ekstrinstik, Instristik, Teori dan Kritik Sastra Terhadap Puisi

Pendekatan Ekstrinstik, Instristik, Teori dan Kritik Sastra Terhadap Puisi

 

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra. Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Selain ada teori sastra, perlunya sebuah kritik sastra bagi sastrawan-sastrawan agar sebuah karya menjadi lebih baik.

Pada hakikatnya, teori sastra membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik konvensi bahasa yang meliputi makna, gaya,struktur, pilihan kata, maupun konvensi sastra yang meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, dan lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. Di sisi lain, kritik sastra merupakan ilmu sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi pertimbangan, serta memberikan penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Sasaran kerja kritikus sastra adalah penulis karya sastra dan sekaligus pembaca karya sastra. Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra kritikus sastra bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensi sastra yang melingkupi karya sastra.Demikian juga terjadi hubungan antara teori sastra dengan sejarah sastra.Sejarah sastra adalah bagian dari ilmu sastra yang mempelajari perkembangan sastra dari waktu ke waktu, periode ke periode sebagai bagiandari pemahaman terhadap budaya bangsa. 

Perkembangan sejarah sastra suatu bangsa, suatu daerah, suatu kebudayaan, diperoleh dari penelitian karya sastra yang dihasilkan para peneliti sastra yang menunjukkan terjadinya perbedaan-perbedaan atau persamaan-persamaan karya sastra pada periode-periode tertentu. Secara keseluruhan dalam pengkajian.

Kritik adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik sebenarnya bukan menunjukkan atau menilai keindahan, keunggulan, kelemahan, benar/salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya adalah mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin sehingga karnyanya mencapai tujuan yang baik pula, serta mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.

Kritik sastra terbagi oleh dua jenis yaitu ekstrinstik dan instristik.Dua jenis tersebut sangat dibutuhkan untuk mengkritik sebuah karya sastra.Karena mengkritik sebuah karya sastra yang ditulis oleh pengarangnya, harus memiliki aturan-aturan yang telah ditetapkan.Dan mengkritik sebuah karya sastra tidak bersifat subyektif melainkan bersifat objektif. Sebab, jika bersifat subyektif akan berpengaruh buruk terhadap pengarang sastra. Mengkritik sastra juga harus dengan bahasa yang baik,sopan dan tidak menghina sebuah karya sastra tersebut. 

Puisi termasuk ke dalam sebuah karya sastra, yang memiliki ekstrinstik dan instrinstik.Puisi adalah sebuah karya sastra yang mengandung unsur irama, ritma, diksi, llirik dan menggunakan kata kiasan dalam setiap baitnya untuk menciptakan estetika bahasa yang padu.Dan puisi juga bisa dikritik oleh pembaca atau penikmatnya dengan menggunakan aturan-aturan yang sudah ada atau teori-teori.Mengkritik sebuah puisi sangat penting dengan bagian kritik sastra yaitu ekstrinstik dan intristik.

1.2 Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud dengan teori sastra?
2) Apa yang dimaksud dengan kritik sastra?
3) Unsur-unsur apa sajakah yang terdapat pada ekstrinstik dan intristik?
4) Bagaimana pendekatan ekstrinstik, instristik, teori dan kritik sastra terhadap puisi?

1.3 Tujuan penelitian
Untuk menambahkan wawasan bagi mahasiswa mengenai pendekatan ekstrinstik, instristik, teori dan kritik sastra terhadap puisi. Dan dapat mengkritik sebuah karya dengan teori-teori dan bahasa yang baik, sopan dan tidak menghina sebuah karya sastra tersebut.

1.4 Manfaat penelitian

1) Bagi mahasiswa dapat menambah ilmu mengenai pendekatan ekstrinstik, instristik, teori dan kritik sastra terhadap puisi.
2) Bagi masyarakat dapat memberi wawasan untuk menkritik sebuah sastra.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Teori Sastra
Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra.Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.Teori berisi konsep/ uraian tentang hukum-hukum umum suatu objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu.
Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya(diverifikasi) atau dibantah kesahihannya pada objek atau gejala-gejala yang diamati tersebut. Teori sastra dalam arti sempit adalah studi sistematis mengenai sastra dan metode untuk menganalisis sastra.Akan tetapi, kata "teori" telah menjadi istilah umum untuk berbagai pendekatan ilmiah untuk membaca teks. Teori sastra Indonesia  adalah studi sistematis tentang sastra dan metode untuk menganalisis sastra Indonesia.
Teori sastra adalah teori yang mempelajari kaidah-kaidah, hukum-hukum , ketegori, kriteria yang menyangkut aspek-aspek dasar dalam teks sastra dan bagaimana teks tersebut berfungsi dalam masyarakat. Aspek-aspek dasra yang terdapat dalam teks berupa aspek instrinsik dan ekstrinsik yang menyatu dalam membangun karya sastra menjadi suatu yang utuh. Aspek intrinsik karya sastra yang meliputi kovensi bahasa sebagai sara sastra, kovensi budaya, dan kovensi karya sastra tersebut. Sedangkan aspek ekstrinsik berkaitan dengan hal-hal yang melatar belakangi timbulnya karya sastra, seperti unsur budaya, aliran, psikologi, filsafat, agama dan politik. Pada hakikatnya membahas secara rinci aspek-aspek yang terdapat di dalam karya sastra baik kovensi bahasa yang meliputi makna, gaya, stuktur, pilihan kata, maupun kovensi sastra yang meliputi, tema tokoh, penokohan, alur, latar, dan unsur lainnya yang membangun keutuhan sebuah karya sastra. teori sastra juga memberikan gambaran keutuhan karya sastra dari berbagai segi yang membedakan dengan karya nonsastra. 

2.2 Kritik Sastra Terhadap Puisi
Kritik sastra merupakan ilmukarya sastra yang mengkaji, menelaah, mengulas, memberi penilaian tentang keunggulan dan kelemahan atau kekurangan karya sastra. Kritikan diberikan untuk memberikan masalah kepada penulisannya tentang kondisi karya yang dihasilkan dengan harapan akan menjadi bahan masukan baginya untuk perbaikan selanjutnya. Dengan kata lain, sasaran kritukus sastra adalah penulis atau penghasil karya sastra.

Untuk memberikan pertimbangan atas karya sastra dari sudutkeunggulan atau kelemahan karya sastra kritikus sastra tidak bersifatsubjektif.Dia harus bekerja sesuai dengan konvensi bahasa dan konvensisastra yang melingkupi karya sastra.Dia bekerja berdasarkan atas teori sastrayang menjadi landasannya dalam memberikan penilaian terhadap karya yangditelitinya.Dalam hal ini teori sastra merupakan sumber rujukan bagikritikus sastra sehingga kritik sastranya bermakna bagi penulisnya.

Menurut Yudiono kritik sastra adalah penilaian tentang isi dan bentuk karya sastra dari pandangan ilmu dan seni. Sebagai ilmu, kritik sastra menaati sejumlah kaidah dan patokan ukuran yang nisbi obyektif tapi sebgai seni, penilain bertolak dari cita rasa yang  nisbi dan obyektif.

1)Kritik tekstual adalah penilaian pada cara penyususunan kembali (rekontruksi) naskah lama yang diterbitkan kembali.
2)Kritik linguistik penilain sudut bahasa.
3)Kritik historik adalah penilaian dari sudut latar belakang dan relevansi sejarah.
4)Kritik biografi ialah penilaian dari sudut unsur-unsur biografik pengarang dan prototip-prototip yang pernah ada.
5)Kritik komparatif ialah penilaian dengan perbandingan untuk mengetahui keaslian dan kekuatan sesuatu karya.
6)Kritik stilistika-estetik ialah penilaian dari sudut belaka.
7)Kritik sosiologik ialah penilaian yang mementingkan latar belakang sosial.
8)Kritik ideologik ialah penilaian yang mementingkan unsur ideologi.
5)Kritik impresionitik adalah penilaian yang bertolak dari tanggapan pribadi kritikus.
6)Kritik pendekatan majemuk atau kritik intergartif ialah yang mencoba memadukan sebagai sudut pendangan hingga menghasilkan kesan menyeluruh tentang suatu karya.

Pada pemandu di dunia sastra (Hartoko, 1986:126) terbaca garis besar pengertian kritik sastra adalah suatu cabang dari ilmu sastra yang mengadakan analisi, penafsiran serta penilaian terhadap suatu teks (wacana) sastra jug adisbeut sebagai pengkaji teks. Dengan kata lain , diperoleh pengertian bahwa kritik sastra merupakan cabang ilmu sastra yang berurusan dengan perumusan, klasifikasi, penerangan, penilaian karya-karya sastra. Dapat juga dikatakan dengan kalimat yang lebih sederhana, yaitu pertimbangan baik buruk karya sastra.

Kritik merupakan salah satu dari ilmu sastra.Kritik puisi meneliti atau menganalisis teks karya puisi itu sendiri. Kritik dapat diterapkan pada semua bentuk menguraikan tentang  pertimbangan baik atau buruk suatu karya puisi. Kritik biasanya diakhiri dengan kesimpulan analisis.Kritik bersangkut paut dengan puisi, prosa, drama, novel bahkan kritik sendiri. Bila kesustraan kreatif dapat didefinisikan sebagai suatu tafsir (interpretasi) kehidupan dalam  berbagai bentuk puisi, baik yang berupa puisi.

Selain itu, tujuan kritik bukan hanya menunjukkan keunggulan, kelemahan, kebenaran, dan kesalahan sebuah karya puisi berdasarkan sudut tertentu, tetapi mendorong sastrawan tuntuk mencapai penciptaan sastra tertinggi dan untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik. Kehadiran kritik puisi akan membuat puisi yang dihasilkan berikutnya menjadi lebih baik dan berbobot karena kritik puisi akan menunjukkan kekurangan sekaligus memberikan perbaikan.

Pengkritikan yang dilakukan mempunyai tujuan yang positif.Tujuan pengkritikan terhadap sebuah karya puisi merupakan sebuah kegiatan menambah, membangkitkan serta mengorek lebih dalam sebuah karya puisi agar lebih familiar dan lebih mudah dipahami oleh pembaca di kemudian hari serta menambah keunggulan yang tersembunyi dibalik sebuah karya puisi.

Kritik puisi merupakan salah satu bentuk apresiasi dan perhatian dari kalangan pencinta puisi. Seorang kritikus tak hanya bisa menilai pemilihan bahasa, kata-kata,  namun juga proses kreatif dari penciptaan dari puisi itu sendiri.Kritik puisi yang berfungsi mendidik pembaca untuk menghargai karya sastra yang memiliki nilai yang berkualitas. Kebanyakan pembaca telah memiliki jiwa kritis setelah menikmati sebuah karya puisi, akan tetapi beberapa hal yang menjadi kendala dalam menuliskan kritikan tersebut diantaranya perlu memiliki konsep atau teori sastra. Meskipun konsep ini dapat dipelajari, namun banyak orang yang senang melakukan kritik sastra secara terbuka (lisan). Perlu memiliki kemampuan menulis, tersedianya media massa atau penerbitan, dan perlunya berkembang tradisi dalam mengkritik sastra.Hal yang harus diperhatikan saat menyampaikan kritik ke sebuah karya:

a. Pahami dan kuasai terlebih dahulu permasalahan yang akan di kritik tersebut. Sering orang mengeluarkan pendapat atau opini atau kritik tanpa mengerti permaslahan sebenarnya, sehingga yang muncul adalah kesalah pahaman.
b. Cara mengkritik merupakan sebuah media/ saluran bagi anda untuk menyampaikan kritik, opini atau uneg-uneg. Gunakanlah cara yang santun dan baik, selain itu jangan sampai anda menyampaikan kritik secara emosional serta gunakanlah bahasa yang baik dan tidak ambigu agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
c. Menyesuaikan dengan Sikon. Jika akan mengkritik sebuah puisi hendaknya memberikan pengantar terlebih dahulu dengan mengemukakan bagian yang akan di kritik atau di beri saran secara singkat, padat, dan jelas, baru kemudian sampaikan kritik atau saran anda secara objektif.
d. Dalam menyampaikan kritik hendaknya di sertai dengan ide-ide segar atau baru solusi yang tepat agar pihak yang di kritik atau yang di beri saran dapat lebih menyempurnakan bahasannya.
e. Kritikan harus santun, artinya di dalam mengkritik, gunakan bahasa yang baik adanya, Kritik dan saran yang di sampaikan hendaknya disertai dengan argumen-argumen yang logis untuk memperkuat kritik dan saran.
f. Kritik dan saran yang disampaikan harus ditujukan untuk menyampaikan kekurangan yang di bahas, bukan bertujuan untuk mengejek atau menjatuhkan pihak yang di kritik.

2.3 Ekstrinsik dan Intristik Pada Puisi
Sebuah karya sastra mengandung unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik.Keterikatan yang erat antar unsur tersebut dinamakan struktur pembangun karya sastra.Unsur intrinsik ialah unsur yang secara langsung membangun cerita dari dalam karya itu sendiri, sedangkan unsur ekstrinsik ialah unsur yang turut membangun cerita dari luar karya sastra.Unsur intrinsik yang terdapat dalam puisi, prosa, dan drama memiliki perbedaan, sesuai dengan ciri dan hakikat dari ketiga genre tersebut.Namun unsur ekstrinsik pada semua jenis karya sastra memiliki kesamaan. Unsur intrinsik sebuah puisi terdiri dari tema, amanat, sikap atau nada, perasaan, tipografi, enjambemen, akulirik, rima, citraan, dan gaya bahasa. Unsur ekstrinsik yang banyak mempengaruhi puisi antara lain: unsur biografi, unsur kesejarahan, serta unsur kemasyarakatan.

2.3.1 Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik puisi merupakan unsur-unsur yang berasal dari dalam naskah puisi itu sendiri. Adapun unsur intrinsik puisi sebagai berikut :

1) Tema
Tema (sense) merupakan gagasan utama dari puisi baik itu yang tersirat maupun yang tersurat.Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita.Aminuddin (1984: 107-108) Tema berperan sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya. Tema merupakan kaitan hubungan antar makna dengan tujuan pemaparan prose rekaan oleh pengarangnya

2) Tipografi
Tipografi disebut juga ukiran bentuk puisi.Tipografi merupakan tatanan larik, bait, kalimat, frasem kata, dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa, dan suasana.

3) Amanat (intention)

Amanat (intention) atau pesan merupakan suatu yang ingin disampaikan oleh penyair melalui karyanya.

4) Nada
Nada (tone), merupakan sikap penyair terhadap pembacanya, misalkan sikap rendah hati, menggurui, mendikte, persuasif dan yang lainnya.

5) Rasa
Rasa atau emosional merupakan sentuhan perasaan penulisannya dalam bentuk kepuasan, kesedihan, kemarahan, keheranan, dan yang lainnya.

6) Perasaan (feeling)
Perasaan (feeling) merupakan sikap pengarang terhadap tema dalam puisinya, misalnya konsisten, simpatik, senang, sedih, kecewa, dan yang lainnya.

7) Enjambemen
Enjambemen  merupakan pemotongan kalimat atau frase dengan diakhiri lirik. Kemudian meletakkan potongan itu diawal larik berikutnya.Tujuannya adalah untuk memberikan tekanan pada bagian tertentu ataupun sebagai penghubung antara bagian yang mendahuluinya dengan bagian-bagian yang berikutnya.

8) Kata konkret
Kata konkret (imajination), merupakan penggunaan kata-kata yang tepat atau bermakna denotasi oleh penyair.

9) Diksi
Diksi merupakan pilihan kata yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan melalui puisi tersebut.

10) Akulirik
Akulirik merupakan tokoh aku yang terdapat dalam puisi.

11) Rimak
Rima merupakan pengindah dalam puisi yang berbentuk pengulangan bunyi baik di awal, tengah, ataupun di akhir.

12) Verifikasi
Verifikasi merupakan berupa rima dan ritma.Rima adalah persamaan bunyi pada puisi dan sedangkan ritma adalah tinggi rendahnya, panjang pendeknya, keras lemahnya bunyi dalam puisi).

13) Majas
Majas merupakan cara penyair menjelaskan pikiran dan perasaannya dengan gaya bahasa yang sangat indah dalam bentuk puisi.Nurgyantoro (2002:296) berpendapat bahwa pemajasan (Figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makan yang terkandung. Dengan demikian, pemajasan merupakan gaya bahasa yang memanfaatkan bahasa kiasan. Bahasa kiasan adalah bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan sesuatu dengan tidak meninjuk secara langsung, terhadap objek yang dituju.

Majas (figure of speech) adalah pilihan kata tertentu sesuai dengan maksud penulis atau pembicara dalam rangka memperoleh aspek keindahan. Pada umumnya majas dibedakan menjadi empat macam, yaitu: a) majas penegasan, b) perbandingan, c) pertentangan, dan d) majas sindiran. Beberapa jenis majas dibedakan lagi menjadi subjenis lain sesuai dengan cirinya masing-masing. Secara tradisional bentuk-bentuk inilah yang disebut sebagai gaya bahasa.  Gaya adalah keseluruhan cara yang dilakukan dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, baik kegiatan jamaniah maupun rihaniah, baik lisan maupun tulisan. Tidak ada kegiatan yang dilakukan tanpa menggunakan gaya tertentu ( Kutha Ratna 2009:164).

14) Citraan

Citraan merupakan gambaran-gambaran yang ada di dalam pikiran penyair.Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji.Gambaran pikiran ini merupakan sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang bisa dilihat oleh mata.

2.3.2 Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik puisi merupakan unsur yang berada di luar naskah puisi. Biasanya berasal dari dalam diri penyair atau lingkungan tempat sang penyair menulis puisinya. Unsur-unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau system organisme karya sastra. Atau secara lebih langsung ia dapat dikatakan sebagai usnur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita dalam sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian didalamnya. Walaupun unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas bangun cerita yang dihasilkan (Nurgiantoro, 2002: 23-24) Berikut ini adalah penjelasan mengenai unsur ekstrinsik puisi :
1)Unsur Biografi, merupakan latar belakang atau riwayat hidup sang penyair.
2)Unsur nilai dalam puisi, biasanya mengandung nilai-nilai seperti ekonomi, politik, budaya, sosial, dan yang lainnya.
3)Unsur kemasyarakatan, merupakan situasi sosial ketika puisi ini dibuat.

2.4  Puisi
Puisi ialah perasaan penyair yang diungkapkan dalam pilihan kata yang cermat, serta mengandung rima dan irama.Ciri-ciri puisi dapat dilihat dari bahasa yang dipergunakan serta dari wujud puisi tersebut.Bahasa puisi mengandung rima, irama, dan kiasan, sedangkan wujud puisi terdiri dari bentuknya yang berbait, letak yang tertata ke bawah, dan tidak mementingkan ejaan.Untuk memahami puisi dapat juga dilakukan dengan membedakannya dari bentuk prosa.
KBBI tahun 2016, puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, mantra, rima serta penyusunan larik dan bait; sajak.Pengertian tersebut menjelaskan bahwa puisi memiliki keteraturan meskipun diciptakan secara bebas oleh penyair.Namun demikian, penciptaan puisi pada masa ini berbeda dengan masa lalu, sebelum perkembangan ilmu pengetahuan dan seni mengalami kemajuan secara teknis.Pradopo (1995:7) puisi merupakan rekaman, dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengosentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengosentrasian struktur fisik dan struktur batin.
Menurut Waluyo (2002:1) Puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif). Puisi mengekspresikan pikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi pancaindra, dalam susunan yang berirama.Semua itu merupakan sesuatu yang penting, yang direkam, dan diekspresikan, dinyatakan dengan menarik dan memberi kesan.Puisi itu merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, diubah dalam wujud yang paling berkesan.( Pradopo, 2009:7)

Berdasarkan waktu kemunculannya puisi dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu puisi lama, dan puisi baru (modern).

1. Puisi lama
Puisi lama adalah puisi yang lahir sebelum masa penjajahan Belanda, sehingga belum tampak adanya pengaruh dari kebudayaan barat.Sifat masyarakat lama yang statis dan objektif, melahirkan bentuk puisi yang statis pula, yaitu sangat terikat pada aturan tertentu.Puisi lama terdiri dari mantra, bidal, pantun dan karmina, talibun, seloka, gurindam, dan syair.

1)    Mantra
Js Badudu (dalam Dian ,2009:9) Mantra adalah kata-kata yang mengandung kalimat dan kekuatan gaib atau magis dan hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu seperti dukun atau pawing “. Sedangkan Hasan menyatakan “mantra adalah hasil kesusastraan lama berupa puisi yang tidak tentu jumlah barisnya dan digunakan untuk berbagai keperluan seperti untuk menyembuhkan penyakit atau membuat orang sakit,menaklukkan binatang (dalam saprianto 2011:7)

 Contohnya:

Mantra Mengobati Gangguan Makhluk halus
Sirih lontar pinang lontar
Terletak di ujung bumi
Setan buta jembalang buta
Aku sapa tidak berbunyi


2) Pantun
Surana (2010:31) menyatakan bahwa pantun adalah sebuah bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik ,yang berima silang (a-b-a-b). Larik pertama dan kedua disebut dengan sampiran atau bagian objektif . Biasanya berupa sebuah lukisan alam atau hal apa saja yang bisa diambil sebagai suatu kiasan. Larik ketiga dan keempat dinamakan isi atau bagian dari subjektif.
Contohnya:

Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding


3) Karmina
Karmina adalah bentuk pantun yang sangat pendek.Karmina sering disebut sebagai pantun kilat.Terdiri atas dua larik, yang pada larik pertama disebut sampiran, sedangkan larik kedua disebut isi.
Contohnya:

Tari saman indah gerakkannya
Tanda iman lapang dadanya

4) Seloka
Seloka adalah bentuk pantun yang saling berkaitan.Seloka merupakan bagian dari puisi Melayu Klasik yang berisis nasihat.Biasanya seloka ditulis dalam dua atau empat baris, terkadang juga ditulis dalam enam baris.Seloka termasuk dalam puisi bebas.
Contohnya:

Sudah bertemu kasih sayang
Duduk terkurung malam siang
Hingga setapak tiada renggang
Tulang sendi habis berguncang


5) Gurindam
Gurindam merupakan bentuk puisi lama yang memiliki ciri-ciri didalamnya terdapat bait yang terdiri dari dua baris, memiliki sajak a-a-a-a. Gurindam banyak memuat nasihat kehidupan.Oleh sebab itu, pada masa lalu masyarakat Melayu khususnya sering menggunakan gurindam sebagai media menasihati generasi penerusnya. Contohnya:
Kurang pikir kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat

6) Syair
Syair adalah puisi yang berciri khas nasihat atau cerita pada tiap baitnya, bersajak a-a-a-a, berisi empat baris dalam satu bait. Keempat baris tersebut mengandung maksud penyair.
Serta pandang api itu menjulang
Rasanya arwahku bagaikan hilang
Dijilatnya rumah-rumah dan barang-barang
Seperti anak ayam disambar elang


7) Talibun
Talibun (pantun genap) adalah jenis pantun yang terdiri dari bilangan genap (6, 8, 10) baris pada tiap satu baitnya.
Sehabis dahan dengan ranting
Dikupas di kulit batang
Teras pengubar barulah nyata
Setinggi-tinggi melanting
Membumbung ke awing-awang
Baliknya ke tanah Jawa

2. Puisi baru (modern)

Puisi baru adalah puisi yang muncul pada masa penjajahan Belanda, sehingga pada puisi baru tampak adanya pengaruh dari kebudayaan Eropa.Penetapan jenis puisi baru berdasarkan pada jumlah larik yang terdapat dalam setiap bait.Pengertian lain dari puisi baru merupakan salah satu jenis puisi yang mempunyai bentuk yang lebih bebas dalam hal aturan. Baik itu aturan mengenai jumlah baris, suku kata, ataupun rima dan irama. Puisi baru tidak kaku seperti halnya puisi lama.Jenis puisi baru dibagi menjadi:

1) Balada
Puisi Balada adalah puisi yang mengungkapkan getaran tabir hidup dalam menggambarkan perilaku seseorang, baik melalui dialog maupun monolog sehingga mengandung suatu gambaran kisah tertentu yang objektif. Banyak penyanyi yang memilih menggunakan balada sebagai sarana menuangkan apa yang ada dibenaknya.
Contoh:

Ciliwung yang Manis
Ciliwung mengalir
Dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
Kerna tiada bagai kota yang papa itu
Ia tahu siapa bundanya.
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.
Dan Jakarta kecapaian
Dalam bisingnya yang tawar
Dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
Hati yang berteriak karena sunyinya.
Maka segala sajak
Adalah terlahir karena nestapa
Kalau pun bukan
Adalah dari yang sia-sia
Ataupun ria yang karena papa.
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lengoknya.
Ia ada hati di kandungnya
Ia ada nyanyi di hidupnya,
Hoi, geleparnya anak manja!
Dan bulan bagai perempuan tua
Letih dan tak diinfahkan
Menyebut langkahnya atas kota.
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!
Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.
Teman segala orang miskin
Timbunan rindu yang terperam
Bukan bunga tapi bunga.
Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk
Dan Jakarta disinggung dengan pantatnya.


2) Himne
Himne adalah puisi baru yang digunakan untuk memuji Tuhan, pahlawan atau tanah air.
contohnya:

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti langkah penuh keikhlasan
Renungan hanya untuk sebuah kejayaan
Berfikir hanya untuk sebuah keberhasilan
Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah
Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di wajah mu
Semangat mu terus berkobar
Memberikan kasih sayang tiada rasa jemu
Jika engkau akan melangkah pergi
Ku tau  langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu telah tiada dirimu kan selalu di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana.


3) Ode
Ode merupakan bentuk puisi baru yang berupa sanjungan kepada seseorang yang berjasa. Gaya bahasa yang dipilih dalam penciptaan Ode adalah tipe gaya bahasa yang anggun dan santun karena ditujukan untuk memuji. 
Contohnya:

Guruku…
Engkau pahlawanku
Pahlawan tanpa tanda jasa
Engkau menemaniku
Saatku di sekolah
Saatku belum mengenalmu
Engkau mengajariku
Mulai dari Taman Kanak- kanak
Hingga ku sampai kuliahGuruku…
Takkan kulupakan semua jasamu
Yang telah bersusah payah mengajariku
Hingga aku bisa
Terima kasih guruku

4) Epigram
Epigram adalah jenis puisi baru yang didalamnya memuat ajaran hidup.
Contohnya:

Lagu Kematian
Mati bagiku hanyalah istilah sementara esensinya sama saja karna hidup dan mati tiada beda
yang beda mampu tidak kita memaknai hidup dalam mati dan mati dalam hidup
Sebab : manusia terlalu sibuk memperebutkan simbol ketuhanan tanpa merengkuh sejatinya makna tuhan


5) Romansa
Romansa adalah jenis puisi baru yang dikarang oleh penyair dan berisikan kisah cinta atau perasaan penyair tentang cinta.
Contohnya:

Ketika malam aku harus terjaga Mencari bayangmu di setiap dinding dinding malam
Mencari seulas senyummu di setiap sudut mataku Dan berakhir menuai ladang kepedihan
Ketika malam terus berlalu Masih aku merasakan begitu dekat dengan  mimpi
Hingga bintang bintang bertanya dimana aku kau sembunyikan ?
Karya : Roman Ranting bulan


6) Elergi
Elegi adalah jenis puisi baru yang berisi kesedihan.
Contohnya:

Senja di Pelabuhan Kecil
Karya: Chairil Anwar
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali.
Kapal, perahu tiada berlaut,menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam.
Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan.
Tidak bergerak dan kini tanah, air tidur, hilang ombak.
Tiada lagi.Aku sendiri.
Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

7) Satire
Satire adalah puisi baru yang berisi kritikan.
Contohnya:

Aku bertanya
Oleh : WS Rendra
Aku bertanya…
tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan, sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya, dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan, termangu-mangu dalam kaki dewi kesenian.

8) Distikon

Distikon adalah sajak yang didalamnya berisi dua baris kalimat, dalam tiap baitnya berima a-a.
Contohnya:

Wahai ananda carilah ilmu Lewat guru dan juga buku
Jangan lantas berputus asa untuk tatap hidup sentosa
(Mohammad Ridwan)


9) Terzina
Terzina adalah jenis jenis puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari 3 baris.
Contohnya :

Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana Mengharum bagai cendana
Dalam bah’gia cinta tiba melayang Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari Dari ; Madah Kelana
Karya : Sanusi Pane

10) Kuatrain
Kuatrain adalah puisi yang terdiri dari 4 baris dalam tiap baitnya.
Contohnya:

Mendatang-datang jua, kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua, yang dulu sinau silau
Membayang rupa jua, adi kanda lama lalu
Membuat hati jua Layu lipu rindu-sendu
(A.M. Daeng Myala)


11) Kuint
Kuint adalah puisi baru yang tiap baitnya berisi lima baris.
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakanSatu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkanSatu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan
(Or. Mandank)


12) Sektet
Sektet adalah puisi baru yang berisi enam baris pada satu bait.
Contohnya :

Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih
(Ipih)


13) Septima
Septima adalah puisi yang pada tiap baitnya terdiri dari tujuh baris.
Contohnya :

Indonesia Tumpah Darahku
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya
Tumpah darahku Indonesia namanya
(Muhammad Yamin)


14) Oktaf
Oktaf adalah jenis puisi baru yang pada tiap baitnya berisi 8 baris.
Awan Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang
(Sanusi Pane)

15) Sonata
Sonata adalah puisi baru yang terdiri dari 14 baris.
Contohnya:

Gembala Perasaan siapa ta ‘kan nyala ( a )
Melihat anak berelagu dendang ( b )
Seorang saja di tengah padang ( b )
Tiada berbaju buka kepala ( a )
Beginilah nasib anak gembala ( a )
Berteduh di bawah kayu nan rindang ( b )
Semenjak pagi meninggalkan kandang ( b )
Pulang ke rumah di senja kala ( a )
Jauh sedikit sesayup sampai ( a )
Terdengar olehku bunyi serunai ( a )
Melagukan alam nan molek permai ( a )
Wahai gembala di segara hijau ( c )
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau ( c )
Maulah aku menurutkan dikau ( c )
(Muhammad Yamin)

2.5 Pendekatan Intrinsik, Ekstrinsik, Teori dan Kritik Sastra Tehadap Puisi

Berdiri Aku
Amir Hamzah
Berdiri aku di senja senyap
Camar melayang menepis buih
Melayah bakau mengurai puncak
Berjuang datang ubur terkembang.

Angin pulang menyejuk bumi
Menepuk teluk menepas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas

Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengerak corak
Elang leka sayap tergulung
Dimabuk warna berarak-arak.

Dalam warna mahasempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecup hidup bertentu tuju.

2.5.1 Pendekatan Instrinsik Terhadap Puisi

1) Tema
Tema yang terdapat dalam puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah ialah kesedihan dengan menggunakan suasana sunyi dalam puisi tersebut.Kesedihan ini tidak lazim dikarenakan perpisahan dengan kekasihnya.Ia harus pulang ke Kampung untuk menikahi seorang wanita dari kerabatnya. Perasaan sedih yang sangat mendalam yang digambarkan oleh penyair dengan suasana sunyi pantai disore hari.Dengan demikian penyair hanya mampu melihat keindahan alam sekitar karena kebahagiannya dan harapan telah hilang.

2) Rasa
Rasa yang terdapat dalam puisi tersebut kata “Aku” digambarkan penyair sebagai orang yang pesimis dalam menghadapi permasalahan hidup mengenai hidup percintaan.

3) Amanat
Amanat yang disampaikan oleh penyair dalam puisi “Berdiri Aku” ialah dalam kehidupan ini kita harus berserah diri kepada Tuhan Maha Esa yang memiliki alam ini, karena hanyalah yang memberikan kepastian dalam hidup semua manusia.

4) Tipografi
Tipografi pada puisi tersebut ialah penyair memanfaatkan margin halaman kertas dalam penulisan sajak ini dan menggunakan EYD yang negitu teliti.

5) Diksi
Diksi yang ada pada puisi “Berdiri Aku”  ialah adanya kata-kata senyap, mengurai, mengempas, berayun-ayun dan sayap tergulung identik dengan kesunyiaan. Kata-kata tersebut membentuk makna kesendirian yang mendalam yang digambarkan oleh penyair. Kata “maha sempurna” dalam akhir bait juga merupakan arti konotasi dari Tuhan yang Maha Esa. Kata “Mengecap” memiliki arti yang ingin dirasakan.Permainan kata-kata yang digunakan ditulis memang sebuah misteri untuk menyembunyikan ide pengarang.

6) Citraan
Sajak berdiri “Aku” ini menimbulkan imaji penglihatan “visuallmagery” seolah-olah kita melihat suasana pantai yang indah. Dalam kalimat pertama imaji kita akan merasakan kesejukan dengan kata-kata tersebut. Dengan berbagai citraan yang mampu ditampilkan oleh penyair ini, pembaca akan ikut merasakan apa yang ditulis oleh penyair dengan inderannya sendiri.

2.5.2 Pendekatan Ekstrinsik Terhadap Puisi

1) Unsur biografi penulis
Tengkoe Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, atau lebih dikenal hanya dengan nama pena Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 – meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun). Ia adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia.  Dia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu (Kesultanan Langkat).

Amir mulai menulis puisi saat masih remaja meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe.

2)Unsur nilai yang terdapat dalam puisi “Berdiri Aku” krya Amir Hamzah ialah unsur nilai kehidupan sosial. Ditandai dengan kalimat “Dalam warna mahasempurna, Rindu sendu mengharu kalbu, Ingin datang merasa sentosa, dan Menyecup hidup bertentu tuju”. Karena kita hidup yang dituju pasti Tuhan Yang Maha Esa, rindu yang sangat mendalam kepada Tuhan dan ingin menyecup kehidupan yang ia jalankan

3)Unsur situasi yang terdapat dalam puisi tersebut ialah situasi sosial kemasyarakatan ditandai dengan kata hidup dan latar belakang sebuah laut yang sunyi senjap dengan angin yang sangat sejuk ketika itu

2.5.3Pendekatan Kritik Sastra Terhadap Puisi

Amir Hamzah ingin menyampaikan ide dan pemikirannya melalui puisi yang dia tulis.Dia menginginkan apapun yang terjadi dalam hidup kita ini harus mernyerahkan terhadap Tuhan karena hanya dialah yang mampu memberi kepastian dalam kahidupan ini.Amir Hamzah mampu mengungkapkan ekspresi kejiwaannya tentang sesuatu yang merasuk dalam imajinasi dan pemikirannya tentang pencarian makna hidup dan tentang sesuatu yang menjadi tujuan utama manusia dalam kehidupan ini.Penyair membuat puisi tersebut bahwa penyair dalam hidupnya harus mempunyai tujuan dan terarah dan selalu ingat kepada Tuhan.Kesedihan yang mendalam ini juga wujud perasaan galau penyair yang digambarkan dengan perasaannya yang dipermainkan ombak dan angin.Sehingga hanya merenungi hiduplah yang mampu dilakukannya.

Penggunaan kosa kata pada puisi diatas sangat mendalam ketika pembaca membacanya, maka apa yang dituangkan dalam puisi tersebut bisa dirasakan langsung oleh penikmatnya. Kata demi kata, bait demi bait pembaca membacakan puisi “Berdiri Aku” bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh penyairnya. Seakan-akan pembaca larut akan kesedihan penyairnya. Ketika memahami puisi Amir Hamzah tersebut maka pembaca akan tahu kesedihan yang disampaikan oleh penyair. Perpaduan antara suasana dan kosa kata yang digunakan oleh penyair sangat serasi dan menyejukkan hati. Dan pada bait-bait terakhir penyair memberi amanat yang sangat mendalam yaitu apa pun yang terjadi kita hanya dapat berserah dan kembali ke Tuhan Yang Maha Esa, karena dialah yang mengatur semua kehidupan hidup manusia. 

Puisi dengan pencipta Amir Hamzah hamper mendekati pada kata sempurna dalam sisi penggunaan kata, imaji, citraan, maknanya dan lain-lain akan tetapi penggunaan kosa kata pada puisi “Berdiri Aku” karya Amir Hamzah sedikit susah dalam mengartikannya. Apalagi jika seseorang susah memahami kata demi kata yang dituangkan oleh penyair. Maka pembaca susah dalam memaknai apa yang dikatakan dalam puisi tersebut. Adapun, puisi tersebut menceritakan berserahlah hidup kepada Maha Pencipta. Seharusnya Amir Hamzah menuangkan kata-kata hidup pada salah satu bait puisi kedua diatas agar pembaca tidak salah mengartikan atau memaknai karya nya tersebut. Kata hidup ada digunakan akan tetapi, terletak diakhir bait baris pertama.


BAB III

PENUTUP


3.1 Simpulan

Teori sastra ialah cabang ilmu sastra yang mempelajari tentang prinsip-prinsip, hukum, kategori, kriteria karya sastra yang membedakannya dengan yang bukan sastra.Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu sistem ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menerapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati.

Kritik adalah analisis untuk menilai suatu karya sastra. Tujuan kritik sebenarnya bukan menunjukkan atau menilai keindahan, keunggulan, kelemahan, benar/salah sebuah karya sastra dipandang dari sudut tertentu, tetapi tujuan akhirnya adalah mendorong sastrawan untuk mencapai penciptaan sastra setinggi mungkin sehingga karnyanya mencapai tujuan yang baik pula, serta mendorong pembaca untuk mengapresiasi karya sastra secara lebih baik.  Dalam mengkrtik, seorang kritikus akan menunjukkan hal-hal yang bernilaiatau tidak bernilai suatu karya puisi. Kritikus bisa jadi akan menunjukkan hal-hal yang baru dalam karya sastra puisi. Hal-hal yang boleh dikerjakan oleh sastrawan.Dengan demikian, sastrawan dapat belajar dari kritik untuk lebih meningkatkan kecakapanya dan memperluas pengetahuanya.

3.2 Saran

Adapun saran dari saya, untuk perkembangan kritik puisi adalah selayaknya kritikus tidak canggung dan dengan tegas mengatakan ini baik dan ini tidak baik dalam menanggapi sebuah karya tersebut.penilaian juga harus dilihat dari aspek diluar sastra bahkan bidang keilmuan yang hampir tidak ada hubungannya dengan sastra.

Memberikan kritik dapat bermanfaat untuk memberikan panduan yang memadai kepada pembaca tentang kualitas sebuah karya. Di samping itu, penulis karya tersebut akan memperoleh masukan, terutama tentang kelemahannya, dan akan memperbaiki kesalahanya dan karya yang diciptakannya akan berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA


Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada. University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Kritik sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media

Pradopo, Racmat Djoko. 2009. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 

Teeuw, A. 1984.Sastra dan Ilmu Sastra: Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Waluyo, Herman J.2003. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Diunduh pada tanggal 29 Agustus 2017. Htt://greanfiction.blogspot.co.id/2014/kritik-sastra-puisi-aku-html


 

0 Response to "Pendekatan Ekstrinstik, Instristik, Teori dan Kritik Sastra Terhadap Puisi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel