Mengenal Kesenian Sinandong Kualuh Labuhanbatu

Pada Era sebelum tahun 60’an sebenarnya telah lahir kesenian dari masyarakat daerah Labuhanbatu, yaitu kesenian tertua yang di namakan “Dzikir” yang diambil dari peninggalan syekh dan penyair-penyair yang pernah tinggal di Labuhanbatu. Dzikir ini sangat membudaya pada masa itu, karena di setiap acara syukuran yang dilakukan penduduk sering menampilkan kesenian  Dzikir ini, dari kesenian ini pula melahirkan pemikiran-pemikiran dari pendiri Kesenian Sinandong, untuk menciptakan suatu karya seni yang mungkin senada atau menyerupai kesenian Dzikir. Dengan menyimak dan mendengarkan nada-nada yang di lantunkan pada kesenian Dzikir tersebut, maka terciptalah nada-nada yang di ciptakan secara tanpa sengaja, yang menjadi cikal bakal terciptanya lagu Sinandong Labuhanbatu.


Keseninan Sinandong

Perkembangan Kesenian Sinandong


Kesenian sinandong pertama kali dibentuk pada tahun 1960-an oleh Alm. H.Muhammad Ya’kub Nasution beserta Alm. Hasan Hasibuan tepatnya di padang matinggi Rantauprapat atau tepatnya didesa Bangunan, kampung Jawa Kelurahan Padang Matinggi Rantauprapat. Pada saat itu terdiri dari beberapa anggota yaitu Alm. Ute Hanim, Alm. Nawi Lomo Nasution, Alm. H.Ajjar, Alm. Kandak, Mas Yunan Nasution (Penyanyi), Alm. Udin ( pemain Biola ) dan beberapa anggota lainnya.

Sinandong Labuhanbatu ini pertama kali di perdengarkan pada saat terjadinya acara pernikahan Putra sulung Alm. H.Muhammad Ya’kub Nasution yaitu Bapak H.Zulkifli Nasution. Pada saat itulah syair-syair dari gubahan Alm. Atok tersebut mulai menggugah telinga masyarakat. Peralatan Kesenian ini pada waktu itu terdiri dari Gendang, piul (biola), Bangsi (sejenis suling kecil), Gambang (sejenis gamelan yang terbuat dari kayu nibung), losung dagang (sejenis lumpang yang terbuat dari kayu aloban) gong kecil, kicir (tamborin yang terbuat dari kelapa kecil berbentuk bulat).

Kesenian sinandong ini adalah penyampaian syair atau pantun yang diubah dengan menggunakan irama sendu atau mendayu dengan diiringi gesekan biola, yang berisi pantun nasehat, pengalaman hidup, tuntunan bahkan kisah yang menyelimuti terjadinya sinandong. Dalam perjalanannya, yang ditampilkan dalam kesenian ini hanya berupa syair dari sinandong. Hingga suatu itu timbuahl ide Alm. Atok untuk menambah ragam dari kesenian ini berupa penciptaan beberapa tarian, yang di kenal sebagai tari inek, tari bunga dabus, tari pilandok, tarian abang tunggal yang merupakan ciri khas dari kesenian sinandong ini. Kesenian sinandong ini begitu diminati pada saat itu, mulai dari andong-andong, atok-atok, remaja putra maupun putri pada masa itu. Apabila mendengar, mengikuti serta berpartisipasi dalam acara kesenian ini menjadi suatu hal kebanggaan. Pada umumnya kesenian ini diadakan pada acara pernikahan, khitanan anak atau pada acara peringatan hari besar termasuk Hari Kemerdekaan dan hari besar lainnya. Dalam masa kejayaannya, melihat suksesnya kesenian sinandong ini, maka dari beberapa orang yang menggemari kesenian ini, secara tidak sengaja menimbulkan ide untuk menciptakan kesenian sejenis, maka muncul ide dari Atok Borkat untuk menciptakan seni baru bernama “Bordah”.

Sedikit mengulang soal pendaftaran kesenian ini ke Medan dan Jakarta hal ini disebabkan pada waktu itu terjadi persaingan diantara kesenian sinandong yang di pimpin oleh Alm. H.Atok Ya’kub Nasution dengan kesenian bordah yang di pimpin Atok Borkat. Oleh karena kesenian bordah ini terbentuk jauh sesudah kesenian sinandong terbentuk, maka dengan perjuangan dan upaya keras Atok Ya’kub Almarhum berusaha keras agar kesenian sinandong yang terdaftar  menjadi ciri khas kesenian Labuhanbatu asli.

Seiring dengan perkembangan waktu dan usia pemain sinandong yang semakin tua maka, pada tahun  70-an dibicarakanlah untuk membentuk grup dengan anggota yang lebih muda dan dilakukanlah pelatihan-pelatihan pada anggota tersebut. Hasil dari pelatihan tersebut maka lahirlah pemain-pemain baru seperti H.Dzulkifli Nasution, H.Syaisah Ya’kub Nasution, H.Juhri Ya’kub Nasution, Juhdin Nasution, Dahlawi, Maddeman Nasution, Rahman Rambe, Mas Yunan Nasution, somah dan beberapa pemain yang menyertai anggota tetap kesenian ini. Pada masa perkembangan kesenian di Labuhanbatu, maka telah terbentuk tiga kesenian di Labuhanbatu yaitu :
  • Kesenian Dzikir
  • Kesenian Sinandong
  • Kesenian Bordah
Setelah Alm.Atok Ya’kub meninggal dunia dan beberapa pemain lama telah lanjut usia, maka kesenian ini dilanjutkan oleh keluarga Alm. Atok Ya’kub sendiri yaitu Anak-anak Beliau, dari semua anak beliau yang fasih menyanyikan lagu sinandong adalah H.Dzulkifli Nasution dan H.Syaisah Ya’kub Nasution dibantu oleh abanganda Dahlawi dan Uak Kami Alm.Mas Yunan Nasution (wafat di Kampung Jawa Gang Sentosa). Sedangkan untuk pemain gendang oleh H.Juhri Ya’kub, Somah serta biola dipegang oleh Rahman Rambe dan ayahanda Maddeman Nasution. Di masa kepemimpinan anak-anak Alm. Atok Ya’kub kesenian ini juga begitu berkembang, untuk kawasan Labuhanbatu tidak ada yang tidak mengenal kesenian sinadong ini. Padahal pada waktu itu ada beberapa kesenian lain yang ada di Labuhanbatu seperti bordah dan dzikir. Dimasa kepemimpinan anak-anak Atok tersebut unsur kesenian lama tetap dipertahankan. Lagu sinandong, Tari inek, Tari pilandok, Tari bunga dabus, Tari abang tunggal tetap mendominasi kesenian ini. Dan ditambahkan  tari bordah yang merupakan pelengkap dari kesenian ini. Ada satu lagu yang khusus dipersembahkan Alm. Atok Ya’kub pada waktu itu untuk cucu beliau, lagu ini diiringi dengan alat musik gambang. Berikut beberapa syair lagu tersebut :
“ Lal lau lek si lal lau kong …..
budak kocek ondak di dukong….
pogi ka kode bajual jagong…
bolikan kain pandukong”

“apa badorak apa badorom…
orang manobang pisang mudanya….
ngapa tagolak ngapa tasonyom…
orang mangonang masa mudanya”

Kemudiaan ditambahkan syair-syair lainnya, Masa kejayaan kesenian ini tetap berlanjut sampai di penghujung tahun 2000-an. Seiring waktu Kesenian ini mulai tercampur dengan kesenian luar sebagai akibat adanya era globalisasi. Kesenian yang semula terdiri dari lagu sinandong tari inek, bordah. Di era tahun 2000-an kesenian Labuhanbatu berkembang, terbukti dengan terbentuknya grup-grup kesenian baru. Namun grup kesenian tersebut tidak menamakan diri mereka kesenian sinandong dan tetapi kesenian endeng-endeng. Grup kesenian sinandong tetap hanya ada satu yaitu kesenian sinandong yang dipimpin oleh H.Dzulkifli Nasution (anak tertua dari Alm.Atok Ya’kub).

Pada tahun 2000-an tersebut, walaupun kesenian sinandong harus bersaing dengan grup endeng-endeng lain, grup kesenian sinandong tetap dihati masyarakat Labuhanbatu. Walaupun pemainnya sudah terlihat menua namun daya pikat dan pukulan gendang mereka tetap berbeda dengan grup lain. Kolaborasi perpaduan kesenian yang terjadi saat itu mau tidak tidak mau harus diikuti juga oleh kesenian sinandong. Unsur kesenian lama mulai berkurang. Lagu sinandong yang dulunya menjadi dominan, kini hanya satu dan dua lagu yang dinyanyikan. Hanya dipembuka dan dipenutup acara. Para pendengar lebih tertarik pada tarian endeng-endeng yang berirama cepat dan riang. Lagu sinandong kini hanya dikenal oleh orang yang sudah tua untuk mengenang masa mudanya.

Beberapa inspirasi terungkap pada kesenian ini. Selain menyajikan unsur lama seperti tari inek, kesenian sinandong ini juga memadukan unsur melayu yang dipadu dengan endeng-endeng. Perlu diketahui bahwa peranan kesenian sinandong merupakan dominan bagi grup kesenian lainnya. Terbukti diawal acara selalu dibuka tarian pembuka yang selayaknya sama dengan tari inek milik kesenian sinandong dan perlu juga diketahui bahwa yang memadukan musik unsur jawa dan cina pada ending-endeng saat ini yang pertama kali adalah grup kesenian sinandong, yang pada waktu  itu berkolaborasi dengan grup bordah yang di pimpin Alm. H.Asbon. Dimasa itulah pertama kali endeng-endeng dipadukan dengan musik jawa, cina, india, bahkan musik latin yang kini dapat kita jumpai pada grup endeng-endeng pada masa ini. Namun seiring waktu, pemain sinandong semakin tua dan mulai menyadari ketuaannya serta perlunya pendekatan diri kepada Allah SWT. Kesenian sinandong tidak pernah lagi terdengar. Hanya berada dihati, dikenangan dan dirindukan orang-orang yang mencintai kesenian ini. Namun pada saat ini sepertinya kesenian ini mulai di cari dan di pelajari oleh mereka yang mencintai dan merindukan kesenian Sinandong. Namun dari beberapa nada yang mereka bawakan, tidak sama dan seindah yang dibawakan pemain Kesenian Sinandong yang lama. Malah mereka tergelincir ke arah “Didong” suatu kesenian dari wilayah Asahan yang dulunya meniru nada-nada dari Sinandong.

Syair Sinandong seperti berikut;

Oiiiii……. Saudaro…oooo....iiiii
Batolur lah kau sinanginnnn……oiiiiii
Batolurlah di pinggir panteeee……
Biarlah sonangggg…..oiiiii…..saudaro…..oiiiii
Nalayan mancari makannnnn…….oiiiiiii…..saudaro
Oiiiii…… Saudaroooo….iiiiii
Barombus lah…….oiiiiii……saudarooooo
Angin tunggaroooo….iiiiiii……saudaraooooo
Biar lah sonangggnalayan oiiii…….saudaroooo
Balayar manuju panteeeeeoiiiii….. saudaro
Oiiiiii…..saudarooooo…..oiiiiiii
Pandai pandailah meniti buih…iiiiii
Buih di titi sampai topian…oiiiiii……saudarooooiiiii.
Oiiiiiii….. saudaroooiiiiii
Pandai pandailah membawa diriiiii….oiiiiii ……saudarooooo
Agar selamat badan di perantauannnnnnn
Oiiiiii……..saudaroooooiiiiiii. saudaro

Syair-syair yang di kumandangkan dalam kesenian sinandong penuh dengan nasihat dan petuah orang dahulu. Lantunan syair-syair sinandong ini diiringi dengan bunyi alat musik seperti, biola, gendang rebana dan gong. Di samping sebagai hiburan pada setiap hajatan, seperti acara khitanan, maupun acara pernikahan, syair-syair sinandong ini juga sering di lantunkan pada acara-acara pengobatan tradisonal yang lazim di sebut oleh orang Labuhanbatu sebagai pengobatan siar mambang. Kesenian senandung ini sempat mengalami masa jayanya di sekitar tahun 50-an sampai dengan tahun 70-an. Perkembangan kesenian sinandong ini, berbeda dengan kesenian qasidah, dan bordah yang sampai saat ini masih terdengar rentak suaranya. Syair-syair lagu qasidah tidak berbeda jauh dengan syair-syair sinandong. Jika sinandong berbahasa daerah, sementara qasidah dengan bahasa Arab. Namun inti dari syair-syair yang dilantunkan tetap pada penyampaian nasihat dan petuah dalam menjalani hidup serta menceritakan kehidupan di dunia dan akhirat. Bagi seorang pekasidah yang mahir, mereka ini dapat melakukan alih bahasa dari bahasa Arab ke bahasa daerah, sehingga bagi pendengar yang kurang paham dari makna bahasa arab yang disampaikan oleh para pekasidah, akan dapat mengerti dan memahami makna dari arti syair qasidah yang sudah di alih bahasakan. Masih bertahannya kesenian qasidah ini di sebabkan masih adanya para generasi muda yang mau mempelajari kesenian qasidah. Berbeda dengan kesenian sinandong yang tidak mempunyai generasi penerusnya.
Danang Kusumo Hanya seorang yang biasa saja,, ingin membagikan tulisan yang seadanya,,

0 Response to "Mengenal Kesenian Sinandong Kualuh Labuhanbatu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel